Selasa, 20 Maret 2012

Fakta? Fiktif?


Pengalaman Hidup

          Berbicara tentang pengalaman hidup tentu akan sangat banmyak mengingatkan kita kepada kejadian-kejadian unik, berkesan, menyenangkan maupun kejadian yang menyedihkan di dalam hidup kita. Di tahun ke 18 saya hidup ini banyak kisah yang terukir di dalam ingatan saya. Sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan, sesuatu yang benar-benar berkesan dalam ingatan saya. Di dalam hidup tentu kita mempunyai prinsip maupun motto hidup, dan karena kita hidup, kita dapat berfikir mengenai hal tersebut. Di sini saya akan menceritakan segala pengalaman saya yang saya alami sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

          Hidup sebagai anak yang tidak cerdas, saya menjalani masa-masa sekolah dasar yang menyenangkan. Tetapi berbeda dari anak kebanyakan, kemampuan otak dan pembelajaran saya jauh di bawah anak yang lainnya. Menjadi ranking yang terbelakang bukan lagi hal baru bagi saya. Hampir setiap tahun ajaran maupun semester yang saya lalui, saya mendapat 5 tempat terbelakang dari hasil pembelajaran saya di sekolah. Makian dari teman kepada saya bahwa saya adalah orang yang tidak mau belajar sering saya dengar tiap harinya, terutama pada saat ujian dilaksanakan. Dari kelas 1 sekolah dasar, sampai dengan kelas 4 sekolah dasar tidak aja kemajuan yang saya alami terutama dalam hal nilai. Mendapati rapor kelas 3 sekolah dasar yang tidak terdapat nilai merah sudah membuat saya sangat senang. Tetapi seiring hidup saya yang tidak bertujuan, nilai di bawah rata-ratapun mulai sering saya dapatkan. Masa-masa kelas 4 sekolah dasar saya lalui dengan cukup berat karena seringkali saya di remehkan oleh guru atas kemampuan berfikir saya yang sangat kurang. Naik kelas dari kelas 4 menuju kelas 5 sekolah dasar dengan syarat percobaanpun saya dapatkan karena nilai saya yang sebenarya kurang. Entah mengapa, usaha yang saya lakukan tidak membuahkan hasil.



Saya berhasil melalui masa percobaan selama 1 bulan penuh dengan nilai yang cukup, tidak lebih. Tetapi prinsip hidup saya saat itu yang mengatakan bahwa “hari ini akan berakhir” benar-benar mengakhiri prestasi belajar saya. Menjatuhkan saya ke jurang yang lebih dalam. Mendapati nilai yang jelek, di setrap oleh guru, di marahi oleh guru karena pr yang tidak saya kerjakan menjadi bekal saya setiap hari karena prinsip saya tersebut. Saat itu saya berfikir bahwa kenaikan kelas hanyalah pemberian begitu saja oleh guru, dan tidak mungkin saya akan tinggal kelas.

Tetapi kenyataan yang saya dapatkan berbeda. Pada saatnya kenaikan kelas menuju kelas 6, saya harus membuang harapan saya untuk duduk di tingkat pendidikan yang setahap lebih tinggu tersebut. Nilai-nilai saya tidak mememuhi kriteria sebagai anak yang pantas naik kelas. Saya harus mengulang pendidikan saya selama setahun penuh di kelas 5 sekolah dasar.

Kejadian yang sungguh membuat saya berubah mengenai pandangan hidup. Kesedihan yang saya alami begitu besar. Tetapi hal itu benar-benar terjadi dan tidak bisa saya elakkan. Tinggal kelas, yang selama ini saya pikir tidak akan pernah saya alami benar-benar terjadi di dalam hidup saya. Saya tidak bisa menanggung rasa malu yang begitu besar di sekolah lama. Memutuskan untuk pindah ke sekolah lain saya lakukan pada saat itu karena menurut saya, itu adalah tindakan tepat yang bisa saya lakukan.

Di sekolah baru saya benar-benar di baharui dari sisi mental, pemikiran saya, maupun dari sisi kerohanian saya. kehidupan religius saya benar-benar di bentuk karena sebelumnya saya seperti orang yang tidak memiliki Tuhan. Awalnya terasa berat menghadapi perubahan, tetapi seiring berjalannya waktu saya dapat mengatasi perbedaan yang awalnya saya rasakan ketika baru pindah dari sekolah lama saya. mendapatkan teman baru dan susanya baru yang jug mendukung saya membuat saya senang. Saya merasa nyaman di lingkungan sekolah baru yang saya tempati saat itu. Disana saya merasa dihargai dan benar-benar terdidik sebagai siswa sekolah dasar. Dan akhirnya saya bisa lulus setelah 7 tahun lamanya saya menuntut ilmu di sekolah dasar.

Saya mulai memasuki masa-masa sekolah menegah pertama saya di tahun 2007. Pengalaman yang sungguh menyenangkan ketika pertamakali memakai seragam SMP. Karena pada saat itu saya tertinggal oleh teman-teman saya yang telah menggunakan seragam SMP terlebih dahulu. Kehidupan SMP pertama saya, saya alami dengan kemerosotan yang sama ketika SD. Kenyamanan yang saya alami justru membuat saya menjadi tidak bisa belajar dan membuat nilai saya turun. mendapati kembali ranking yang buruk saat itu mebuat saya berfikir bahwa saya akan mendapati kembali masa-masa kejatuhan saya ketika SD di saat saya duduk di bangku SMP.


 
Ketakutan akan kegagalan yang begitu besar menjadi motivasi bagi saya utuk mendapatkan nilai yang baik. Perlahan tapi pasti saya mulai mendapatkan nilai saya yang kian membaik. Saya tidak puas akan nilai saya yang saya dapatkan ketika saya SMP kelas 7. Di kelas 8 dan 9 saya memdapatkan nilai yang cukup untuk membuat saya naik kelas dan lulus menuju jenjang berikutnya.

Saya memulai memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan pada saat itu saya juga mulai sadar betapa kurangnya saya dalam hal nilai, dan benar-benar harus di tingkatkan. Memasuki masa SMA, saya mulai benar-benar sadar tentang makna hidup dan perjuangan hidup. Belajar menjadi kegiatan wajib yang saya lakukan setiap malam untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Motivasi diri di kelas 10 mulai meningkat pesat, dan pada saat itu saya merasa bisa mendapatkan apa yang saya ingin dan harapkan dengan usaha dan kerja keras saya. Untuk pertama kalinya mendapatkan posisi 10 besar, saat itu sungguh tidak pernah terfikirkan bagi saya yang termasuk dalam kategori orang berkemampuan kurang secara pemikiran. Suskses mendapatkan rangking yang lebih dari pada saat semester 1 kelas 10 membuat saya yakin untuk masuk, memilih jurusan IPA sebagai jurusan di SMA yang akan membawa saya sukses di masa depan saya.

Saya merasa bangga terhadap prestasi saya di kelas 10 dan berharap prestasi yang sama pula di kelas 11. Ternyata apa yang saya rasakan pada saat pertama kali menduduki kelas 11 tidak semudah seperti apa yang saya rasakan di kelas 10. Persaingan yang ketat, kecerdasan individu yang tinggi, dan kemampuan belajar yang luar biasa mebuat saya kesulitan menghadapi persaingan.

Kelas 11 IPA benar-benar menguji kemampuan maupun kepribadian saya. pelajaran yang membutuhkan kemampuan berfikir yang luar biasa, tidak cocok bagi saya yang mengandalkan kerja keras. Saya sadar bahwa kerja keras tidaklah cukup untuk menghadapi persaingan di kelas IPA. Faktor kecerdasan dan keberuntungan menjadi faktor utama dalam menghadapi persaingan. Bukan berarti kerja keras tidak bisa melampaui sebuah bakat. Kita harus yakin akan kemampuan kita. Saya telah mengambil kesempatan, dan berjuang adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi persaingan ini.