Minggu, 29 Desember 2013

...


http://www.youtube.com/watch?v=iv50xrsFNdU



http://www.youtube.com/watch?v=nn3fYaSWlWE

Aku Memilih Sikap "..."

     Awalnya bingung, ingin memberi judul apa pada tulisan kali ini. hmmm.... Kembali aku akan menyajikan cerita dimana aku berada di posisi yag menurutku sulit, rumit, dan tidak tahu harus bagaimana caraku menyelesaikannya. Cerita kali ini tidak jauh dari masalah "cewek" yang sudah hampir 3 bulan bermasalah denganku, tertanggal sejak saat aku menulis tulisan ini. Jika kalian perhatiakn pada tulisan sebelumnya yang berjudul 'Keretakan Hubungan' kalian akan melihat beberapa susunan kata ataupum paragraf yang terkesan awkward. Karena memang saat itu aku sedang banyak pikiran yang membuatku sulit untuk menyusun kata dengan baik. Konsep tulisanku selalu berdasarkan fakta yang ku alami dan dengan bukti yang nyata.

    Saat ini aku masih berkutat dengan rasa benciku, sekaligus rasa sayang kepada Aya Honaleva. Rasa benci yang mendominasi, membuatku tidak nyaman. memang terdengar aneh, benci dan sayang adalah 2 hal yang berlawanan. Bagaimana bisa? Berawal dari saat keretakan hubungan yang lalu, dengan bukti yang sudah ku simpan. Hmmmm... Sudah 2 bulan lebih sejak saat aku dibohongi, yang katanya 'demi kebaikan,' apakah hal itu benar-benar untuk kebaikan? Kalau memang untuk kebaikan kenapa Aya meneceritakan hal yang tidak benar kepada teman-temannya yang bahkan aku tidak kenal, dengan menjelaskan alasan 'putus'nya hubungan denganku saat itu adalah karena aku selingkuh? atau bahasa germannya nikung, nyerong, dll, dengan cara aku dm'an (direct message dalam twitter) dengan wanita lain, hal ini tidak ku sangkal, aku memang 'ngobrol' dengan salah satu temanku di Direct Message twitter, dan saat itupun aku memberitahukannya ke Aya sendiri, dan tidak ada niat dariku untuk menutup-nutupi pembicaraan kami, Aku juga tahu Aya mengetahui password twitterku, dan alasan yang dia ajukan saat "putus" bukanlah karena DM tersebut... Kenapa Aya harus menyebar-sebarkan hal yang tidak sesuai seperti itu? memang hal itu demi kebaikan, tetapi hanya untuk dirinya sendiri, karena sesungguhnya tidak ada yang namanya berbohong untuk kebaikan, kebohongan hanya akan menunda pemecahan masalah, kebohongan itu sendiri saja sudah menjadi dalil dari sebuah ketidakbaikan, lalu bagaimana bisa? Memang saat itu aku ikut andil dalam membuat keretakan hubungan, dengan diriku yang berkutat dengan 'self-pity' ku yang sulit aku hilangkan di masa transisi yang terjadi setelah lulus SMA. Hal inilah yang membuat Aya sakit hati dengan sifatku yag tak kunjung membaik. Jika di urutkan, keretakan hubungan yang aku rasakan dimulai dari saat aku merasa Aya telah berubah, di awal bulan Oktober 2013, saat itu aku belum mengetahui alasan dari perubahan sikapnya yang begitu drastis. Tak habis akal, dengan cara yang tidak etis, aku mencari tahu alasan perubahan sikap dari Aya, dengan cara membuka Line sesuai dengan password yang pernah Aya beritahukan ke aku, dan teranyata benar saja. Setelah aku membuka dan mengamati pembicaraannya dengan teman-temannya, aku mendapatkan dia menceritakan hal yang tidak benar tentang diriku kepada teman-temannya, dan di saat yang sama juga aku menyaksikan sendiri pembicaraannya dengan seorang laki-laki bernama 'pip', yang ternyata saat itu dia sukai, hal ini terjadi di kisaran tanggal 6-15 oktober 2013, hanya berselang 1 minggu disaat terakhir dia tidak ingin mengucapkan kata 'sayang' lagi denganku di awal bulan oktober 2013. Memang kita sudah putus sejak bulan juli, hal ini terjadi karena aku yang memang terlalu berharap, dan sikap Aya saat itu yang terkesan melambangkan sebuah kePHPan. Faktor-faktor inilah yang semakin menegaskan keretakan hubungan kita, dari orang yang dulu pernah saling menyayangi, menjauh, bahkan menjadi benci. Tidak lama setelah aku menangkap basah Aya dan sms mesranya dengan laki-laki, sebut saja "IF", aku kembali mendapatkan Aya telah 'jadian' dengan laki-laki lain lagi yang bukan IF di tanggal 22 oktober 2013. Kalau di hitung-hitung, 22-15=7, berarti hanya dalam 7 hari atau rentang waktu seminggu saja, (dengan keadaan dia di lingkungannya saat itu yang tidak ku ketahui) dia memilih laki-laki yang lainnya lagi untuk dijadikan pasangan barunya, sebut saja 'DYS'... Hal ini dapat di analogikan bahwa keadaanku saat itu tidak hanya di Dua'in, tetapi di Tiga'in dengan si IF dan si DYS. Saat itu aku merasa sangat marah dengan sikapnya yang tidak karuan dengan lingkungan barunya. Tetapi di sisi lain, kebahagian yang kita jalin sulit untuk di lupakan, itulah yang membuatku sayang. 

     Setelah melihat firman Tuhan  pada 1 Korintus 13 aku mulai sedikit mengerti, sikap apa yang harus ku ambil, memang tidak mudah, tetapi aku harus berusaha. Dengan keadaan yang sulit, dan pikiran yang amburadul, aku berusaha menyatakan 'kasih'ku kepada Aya. Semenjak rentetan kejadian di bulan oktober itu pula, sampai saat ini, masih banyak cercaan dan hinaan yang kuterima dari Aya, salah satu yang paling ku ingat adalah saat Aya berkata "nama itu lagi nama itu lagi, muak!" yang dimaksud adalah namaku Ponang yang sebelumnya disinggung oleh temannya di twitter. Dan yang masih segar dan belum lama ini, aku memperhatikan pembiacaraan Aya dengan salah satu temannya, menyinggung tentang kejadian saat aku masih SMA, saat aku dan Aya bertengkar. Dalam rentetan kicauan itu memang tidak menyebutkan namaku, tetapi aku mengerti karena pembicaraan yang menjurus. Kicauan tersebut menyatakan bahwa aku pernah meniggalkan Aya di sekolah saat sedang bertengkar. Hal yang kembali tidak benar yang aku dapati dari Aya, dan temannya. Memang tidak ada bukti valid, tetapi aku berani bersumpah tidak pernah melakukan hal seperti meniggalkan Aya sendiri di sekolah, saat kami sedang bertengkar sekalipun hmm. Lebih tepat jika aku yang pernah ditinggalkan di sekolah, dan hal ini terjadi saat kami bertengkar di bulan maret 2012 lalu. hmmmmmm...................

     Banyak hal yang terjadi, yang menurutku tidak sesuai, ditambah sikap Aya yang menurutku semakin tidak karuan. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk kembali mendapatkannya, kebohongan, cerita mengenai diriku yang tidak sesuai, hinaan, cercaan, dan masih banyak lagi sikapnya yang bahkan aku sendiri sangat mengenalnya selama 2 tahun, tidak bisa berkata-kata dan berkomentar lagi. Sulit bagi orang lain menyadari hal ini, karena mereka tidak mengalaminya sendiri, dan tidak memperhatikannya secara detail dengan bukti yang jelas. Sekali lagi, konsep tulisanku selalu berdasarkan fakta yang ku alami dan dengan bukti yang nyata.

     Saat ini aku juga berusaha menyatakan 'kasih' secara utuh di dalam diriku, berdasar pada 1 korintus 13. Memang sulit untuk memaafkan dan menerima begitu saja hal-hal yang tidak baik dari orang lain, mengenai diri kita, tetapi aku tidak bisa selamanya terjebak di dalam keadaan yang sangat menyita pikiranku. Aku mesih belum bisa menyatakan kasih yang "menutupi segala sesuatu" dan yang "sabar menanggung segala sesuatu"... Tetapi aku yakin dan percaya, ketika aku berhasil melewati ini semua, Dia akan memberikan segalanya yang tebaik bagiku. Dalam keadaan seperti ini, hanya "kasih" yang bisa ku usahakan dan kuwujudnyatakan di dalam setiap aspek kehidupanku. ^_^ 
Aku berharap setiap orang bisa menyatakan kasih yang tak beralasan, kepada siapapun, apapun dan kapanpu, kasih yang 'Agape' 



Yakobus 1: 2-4 
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."








I love people who hate me 
I love my enemies 
and I will pray to them
because of His eternal love
-I choose to forgive-

Minggu, 15 Desember 2013

Fenomena Salah Jurusan

 

    Salah jurusan kerap kali terjadi pada masa transisi, dimana kita diletakkan di suatu tempat di perguran tinggi yang tidak sesuai dengan minat dan bakat kita. Hal ini akan terdengar awam oleh anak-anak SMA yang belum pernah merasakannya. Karena belum merasakan kehidupan yang akan terjadi setelah lulus...

    Salah Jurusan menjadi hal, yang umumnya ditakuti oleh mahasiswa baru (maba) yang hendak memulai jenjang perkuliahan. Banyak hal, yang menyebabkan seseorang bisa merasa bahwa ia salah jurusan, dan yang paling umum adalah tidak adanya semangat dalam mempelajari sesuatu yang telah kita pilih di dalam jurusan tertentu. Dan seiring berjalannya waktu, mereka yang mendapati dirinya salah jurusan dengan tidak adanya semangat dalam mempelajari suatu bidang, akan menemukan berbagai macam alasan tambahan seperti; ketidakcocokan dalam kehidupan sosial, ketidak sanggupan dalam mengikuti suatu mata kuliah, dan lain-lain.

     Salah jurusan berawal dari saat kita lulus SMA. Saat itu, kita akan mulai memilih jurusan kuliah dengan harapan, dapat menopang masa depan kita dengan sangat baik. Pada saat itu (saat-saat pencarian jati diri), untuk sementara waktu kita melupakan apa yang menjadi kesenangan kita terhadap suatu bidang pelajaran. Contohnya; pada pengalamanku saat itu, aku memilih IT karena mempunyai prospek yang bagus, mudah untuk mendapatkan kerja, dan dengan gaji yang tidak sedikit. Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Saat itu aku lupa, aku mempunyai kemampuan lebih untuk mengolah seni, dan kreativitas yang sangat baik, dan aku sangat semangat dalam mempelajari dalam dunia otomotif. Aku juga lupa terhadap kepuasan yang ku dapat saat aku menyelesaikan sebuah karya seni. Aku terlalu khawatir dengan masa depanku jika aku hanya mengikuti apa yang kusukai. 'Gaji yang besar,' hanya itu yang kuinginkan. Memang betul itu yang diinginkan setiap orang, jika kita berfikir realistis, dengan apa kita dapat menghidupi keluarga kita nanti, jika pendapatan kita pas-pasan, atau malah berkekurangan? tapi sudahlah, kita memang harus realistis, tetapi jangan melupakan pengharapan yang menjadi semangat kita untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Lihatlah orang-orang sukses dalam bidangnya masing-masing. Hal tersebut bisa terjadi karena mereka menjalani apa yang menjadi semangat mereka untuk terus tumbuh, dan berkembang. Jika itu mengenai hal "realistis," yang perlu kita sadari hanyalah persaingan yang semakin ketat, di dalam menempuh puncak tertinggi. Tidak akan ada jalan yang mudah dalam mencapai puncak keberhasilan kita, apa yang kita perjuangkan, itulah yang akan kita dapat. Seharusnya, persaingan dalam dunia kerja bukan masalah, karena kita menjalani kehidupan kita dengan enjoy. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan dan kepuasan diri. Seandainya banyak orang yang menyadari hal itu, hidup di dunia bukan lagi menjadi suatu hal yang harus ditakuti, tetapi bagaimana cara kita menikmati dunia, dan karunia yang disediakan Tuhan kepada kita. Tuhan menciptakan setiap manusia itu berkelebihan, kita harus sadari hal itu!

     Contoh mudah, dengan tujuan apa seseorang bercita-cita ingin menjadi guru? bukankah gaji guru tidaklah besar? Memang profesi guru saat ini menjadi opsional pekerjaan. Tetapi tidak sedikit juga yang menjadikan ini sebagai sebuah impian dan cita-cita. Karena di dalam profesi sebagai guru, ada kepuasan yang kita dapatkan, terutama ketika kita berhasil membuat anak murid kita mengerti dengan apa yang kita ajarkan. Memang tidak dibayar dengan harga yang mahal, tetapi hal itu merupakan sebuah kepuasan diri yang tidak bisa dibeli! kita akan selalu merasa berkekurangan, ketika kita mengejar uang di dalam pekerjaan. Meskipun kita harus tetap realistis terhadap dunia, kita tidak bisa hidup tanpa uang, tetapi tanpa uang, kita bisa bahagia. Hal inilah yang belum bisa dimengerti oelh kebanyakan orang. Apa lagi yang bisa kita tuntut dari Tuhan? Sedangkan Ia sudah memberi kita 'Kasih' yang tidak ada harganya. Apa alasan kita hidup? Untuk jadi kaya dalam harta dan memuliakan banyak orang? Untuk tumbuh di dalam iman, mempelajari esensi kehidupan dan mengabarkannya kepada banyak orang? Atau hidup untuk melayani sesama, dengan atau tanpa bayaran? Hidup itu mudah, Tuhan telah menyediakan segalanya ada, dan menuntut pekerjaan dari kita, tetapi dunia'lah yang membuat semuanya menjadi susah. Temukan alasan kamu hidup di dunia! renungkanlah! untuk apa kamu melakukan semua yang telah kau lakukan?

     Saat masuk ke dalam dunia perkuliahan kita akan tahu dan akan mengerti mengenai 'salah jurusan.' fenomena ini akan banyak terjadi pada mahasiswa yang merasa bahwa 'ini bukan tempatku,' atau 'aku tidak merasakan semangat dalam mempelajari hal ini semua,' dan memang ini yang akan banyak terjadi di semester satu. Jarang ada mahasiswa yang menyatakan diri untuk keluar di semester 1, karena sesungguhnya itu masa-masa perkenalan. Tetapi bukan berarti mahasiswa yang menyatakan diri untuk 'out' tidak berfikir panjang, karena aku adalah salah satunya. Ada yang memilih untuk keluar dan berusaha menggapai jalannya sendiri, dan ada pula yang mengikuti arus dengan berusaha menetap. Saat itu kita akan dihadapkan pada pilihan sulit yang didasari pada pemikiran matang kita tentang masa depan. Fenomena salah jurusan akan banyak kita temui, tetapi pilihan dan keputusan yang diambil setelah itulah yang perlu banyak kita pelajari.

     Sempat, suatu saat aku 'ngobrol' dengan salah satu temanku, yang juga merasa salah jurusan. Dia memiliki pandangan dan keputusan yang berbeda dariku mengenai salah jurusan yang sempat dia rasakan. Sedikit cerita: saat ini dia kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di Malang, dengan jurusan Teknik Pangan. Dia sempat merasa salah jurusan karena dia tidak merasakan semagat dalam mempelajari bidang yang ia jalani saat ini. Suatu saat, di dalam ke'galau'annya dia menemui hal yang membuat dia bersyukur, karena Tuhan telah menempatkan dia di tempat ia belajar saat ini. Suatu kali ada temannya yang berkata kepadanya, "tadinya jurusan lo itu, pilihan pertama gue loh," dan ada pula yang berkata "itu jurusan yang paling gue incer loh!" Tidak hanya itu, dia juga merasa tidak nyaman dengan proses pembelajaran yang dia hadapi di semester pertama, tetapi, salah seorang senior berkata kepadanya, "baru juga semester satu." Beberapa kutipan perkataan tersebut membuat dia semakin berfikir tentang apa yang dia jalani saat ini. Dan sampai pada akhirnya dia mendengar Khotbah mengenai 'rancangan' Tuhan, dan termotivasi oleh kata-kata seorang motivator yang berkata, "kalian berada di sini bukan karena suatu kecelakaan, Tuhan menempatkan kamu disini 'pasti' ada maksudnya." Dengan berbagai macam pertimbangan, dan kata-kata positif yang diucapkan orang-orang disekitarnya, dia justru semakin merasa bersyukur dengan keadaannya saat ini. Tidak banyak orang yang bisa seperti dia. Dia merasakan kehadiran Tuhan dengan cara yang berbeda denganku. Pada posisiku, aku mempelajari betul apa yang akan ku hadapi di semester mendatang, mengolah dan terus mencari jalan keluar. Aku menonton banyak acara motivasi, dan banyak membaca firman Tuhan. Ada dua poin utama yang membuatku berani  untuk 'bergerak keluar.' Yang pertama, motivasi oleh Mario Teguh, yang berkata "anak muda harus berani mengambil resiko dan mengeksplor dunia." kata-kata Mario Teguh tersebut hampir sama seperti yang dikatakan seorang pendeta di kota Solo bernama pak Obaja, dia berkata "buatlah keputusan yang radikal, dimana di dalam keputusan tersebut kita percaya bahwa Tuhan menuntun kita menuju arah yang lebih baik, keputusan untuk maju!" Dan yang kedua, ku dapatkan melalui firman Tuhan yang berkata "Janganlah kau kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah permohonanmu di dalam doa, dengan ucapan syukur!" kedua poin inilah yang membuatku berani melangkah dan maju, untuk menjalani hidupku, dan menyerahkan keputusanku di dalam Tuhan.

 Tuhan bekerja di dalam setiap hidup manusia, bahkan dengan sudut pandang manusia yang berbeda, tetapi tetap mengarah kepada hal yang sama, yakni demi kebaikan hidup kita, dan karena kasihNya kepada kita. Maka sudah seharusnya kita mengucap Syukur atas segala yang terjadi di dalam hidup kita, dan apa yang kita miliki saat ini, dengan tanpa melupakan 'hikmat' yang kita miliki...

Salah Jurusan? Temukan Jawabanmu di Dalam Tuhan!
-Tuhan Memberkati-

Sabtu, 07 Desember 2013

Seiring Datangnya Kekuatan Besar, Datang Pula Tanggung Jawab besar

                Judul diatas mengingatkan kita kepada sebuah film superhero yag tidak lain dan tidak bukan adalah ‘Spiderman.’ Memang benar apa yang di katakana paman Ben. Begitu juga didalam kehidupan nyata ini, seseorang yang cukup kuat akan selalu diikuti dengan masalah-masalah dengan intensitas yang padat. Tuhan akan menyertakan orang kuat dengan masalah yang besar agar bisa ia dapat menyeselaikannya. Tuhan tidak akan memberikan masalah besar pada orang lemah, karena Tuhan tidak akan memberikan masalah di luar dari kemampuan kita untuk menanggungnya. Bagaimana dengan kehidupanmu dan masalah di dalamnya?



               Aku bersyukur terlahir sebagai Ponang Adi Nugraha karena Tuhan menyertaiku dengan berbagai masalah yang kuterima dan yang bisa ku tanggung, yang paling lama dan sarat akan pelajaran yang bisa ku terima dan ku tanggung adalah ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tinggal kelas yang ku alami saat kelas 5 begitu mengena dan terkenang, aku tidak bisa melukapan setiap menitnya saat aku mengetahui ketertinggalanku saat itu. Di waktu yang sama, aku memutuskan pilihan untuk pindah sekolah karena malu menjadi adik kelas dari teman-teman yang sebelumnya satu angkatan denganku. Sebuah keputusan sulit yang luar biasa yang bisa di ambil seorang anak SD berumur 11 tahun. Dari sekolah bernama Marsudirini di Bekasi, aku pindah ke sekolah bernama Mahanaim, yang letaknya tidak jauh dari Marsudirini. Saat itu aku merasa dengan kepindahanku, masalaku akan selesai begitu saja, tetapi tidak.
              
              Hari pertama di sekolah baruku, aku kembali shock dengan kenyataan yang kuterima bahwa aku sekelas dengan teman-teman yang seharusnya menjadi adik-adik kelasku. Tekanan batin yang sungguh berat bagi seorang anak SD, saat itu aku berusaha bangkit dan memang tidak mudah bagiku, butuh waktu lebih dari 3 bulan untukku menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku dan teman-temanku. Terkadang aku merasa lebih mampu dan menyombongkan diri atas umur yang lebih tua dari teman-temanku satu angkatan. Dan disinilah awal Tuhan menjamahku. Pengalaman tidak naik kelas membuatku selangkah lebih maju dari teman-teman sebayaku, entah itu dalam hal kedewasaan, ataupun pola pikir. Beruntung aku pindah kesekolah yang lebih mendekatkanku dengan Tuhan, yaitu Mahanaim. Sebelum itu aku seperti masa bodoh dengan makna dari kepercayaan itu sendiri. Misalnya dai saat teman-teman sebayaku bersekolah minggu, aku lebih memilih duduk di tangga dan bermain sendiri, tanpa memperdulikan pelajaran apa yang ku dapat.
               
           Mahanaim berhasil memberikan pelajaran dan pengalaman yang sangat berarti bagiku, terutama dalam kehidupan sosial beserta masalah yang ada di dalamnya. Lalu berlanjut kedalam kehidupan SMP ku. Ya, di dalam kehidupan SMP, aku kembali menjadi Ponang si pemalas. Aku belum benar-benar memikirkan masa depanku saat itu. Yang ku pikirkan singkat saja, hanya teman, dan permainan didalamnya. Masa-masa SMP bukan menjadi masaku untuk mencari jati diri, tetapi masa untuk bermain dan mencari banyak teman. Dan betul saja, memang banyak sekali taman yang ku dapatkan dan sampai saat ini masih terkenang di dalam pikiranku. Ku rasa masa SMP adalah masa-masa terindah di dalam kehidupanku, hhehe… banyak pertemanan yang ku jalin, dan sedikit bumbu cinta monyet di akhir pekan.

Berlanjut ke masa SMA, disilah aku melakukan gebrakan, bahkan sudah ku mulai di saat pertamakali aku duduk di bangku SMA. Bukan lagi menjadi Ponang si pemalas, hal itu sudah hilang di kelas 10. Saking rajinnya, aku berhasil mendapatkan rangking di kelasku, memang bukan rank 3 atau 5 besar, hanya ranking 7 danri 35 siswa. Mungkin hal itu bukanlah prestasi, atau mungkin kejatuhan bagi anak yang selalu mendapatkan ranking 5 besar sejak kecil, tetapi bagiku yang pernah tinggal kelas ini, hal ini merupakan suatu hal yang luar biasa yang bisa kudapatkan di dalam hidupku… beranjak dari situ, aku bisa masuk ke dalam kelas IPA yang saat itu masih dianggap superior, karena berisi anak2 cerdas yang saling bersaing. Tentu saja aku tidak mau kalah dengan mereka. Semangat yang timbul menggebu-gebu di awal akhirnya runtuh ketika aku mulai menyukai seseorang yang akhirnya menjadi pacar pertama ku. Selama 2 tahun aku menjalin hubungan dengan dia, dan ku rasa hal ini yang menjadi penghambatku untuk maju dalam pengembangan diriku, tetapi hal ini juga yang memberiku pelajaran berarti tentang kehidupan berpasangan, ya kehidupan cinta. Memang indah, tapi menjatuhkan. Masa-masa SMA ku lewati dengan sangat sulit dan dengan banyak kejatuhan yang ku hadapi, disini kehidupanku kembali diuji dan diingatkan Tuhan..

Berhasil melalui Ujian nasional dan lulus SMA dengan nilai pas-pasan membuatku berfikir kembali, apakah IPA adalah jurusan yang tepat bagiku di saat SMA? Hmmm mungkin tidak, tapi aku tahu rencana Tuhan meletakkan ku di sana adalah untuk lebih mendewasakan aku dan memberikanku pelajaran yang sangat berarti mengenai kehidupan yang sebenarnya. Dan inilah berkat Tuhan sesungguhnya yang menberikanku berbagaimacam rintangan sulit yang Tuhan tahu bahwa aku bisa menghadapii dan menyeselaikannya.

Saat lulus dan tidak diterima di perguruan tinggi negri dengan jurusan yang ku mau, membuatku jatuh dan memilih alternatif lain, dengan jurusan  yang memiliki prospek tinggi, hal ini juga sudah ku jelaskan di tulisan sebelumnya dalam ‘antaraPassion dan Waktu’ dan ‘Mengambil Keputusan Sulit.’ Tidak hanya masalah ketidak cocokan di dalam mengambil jurusan kuliah, masalah cintapun juga menimpaku di saat yang sama. Kedua hal itu sempat menjatuhkanku ke jurang terdalam di dalam kehidupanku. Aku tidak bisa berfikir jernih dan matang tentang apa tujuanku setelah ini karena pemikiran yang tebagi-bagi atas masalah yang kuterima. Memang sulit untuk bangkit, tapi pengalaman membentukku, aku Tahu aku kuat sehingga Tuhan memberikanku berkat masalah yang besar bagiku. Aku selallu menjadikan masalah sebagai berkat, karena di dalam setiap masalah’lah kita tumbuh dan berkembang. Aku kembali berfikir, mengapa Tuhan meberikanku ini, karena aku tahu Tuhan tidak akan memberikan masalah tanpa alasan. Aku kembali flashback tentang apa yang ku alami selama setahun penuh. Dan aku sadar Tuhan menempatkanku di Jurusan ini (TI)  bermaksud untuk menyadarkanku atas passion dan semangatku selama ini yang sudah lama hilang, dan kenapa di Jogja, juga Tuhan bermaksud untuk mendidikku denga keras, untuk kemandirianku dan menyelesaikan sendiri setiap masalah yang ia curahkan kepadaku. Dan mengingat masa kelas 10 dimana aku dapat melakukan akselerasi dengan sangat cepat dan berhasil sampai di puncak kehidupanku saat itu, saat aku tidak mempunyai pacar hehehe. Aku kembali sadar maksud Tuhan menjauhkanku dari pacarku saat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mebuatku lebih rajin dan sadar bahwa Tuhan ingin berkata ‘Ponang, kemampuan kamu lebih dari pada ini, Aku tahu, dan inilah maksudKu atas semua yang terjadi kepadamu, perjuangkan hidupku, berhentilahh bermalah-malasan.’ Aku juga mulai sadar, masa2 pacaran yang memberiku banyak pelajaran, di lain sisi merugikanku dalam masalah pengembangan kepribadian, dan kemampuan hidupku. Dan inilah berkat Tuhan yang sesungguhnya, dia memberikan anakNya sebuah masalah besar karena Tuhan tahu kemampuan kita lebih besar dari semua yang kita hadapi, dan Dia ingin menyadarkan sesuatu tentang hal yang baik yang telah hilang dalam diri kita…

Ingat !! TUHAN PUNYA RENCANA… yang pastinya lebih indah dari apa yang kita pikirkan. Dia memberikan masalah sesuai dengan porsi kekuatan, ketahanan dan kemampuan kita sebagai anakNya. Seperti apa masalahmu? Temukan jawabannya di dalam Tuhan, selamat menikmati masalah yang Ia berikan kepadamu… pasti ada maksudnya ^_^ GBU…

Seiring Datangnya Kekuatan Besar, Datang Pula Tanggung Jawab besar


Rabu, 04 Desember 2013

JATEN after two years

kali ini aku akan benar-benar sharing tentang pengalamanku saat berkunjung ke desa Jaten kecamatan Argosari, tapatnya di Bantul Yogyakarta. Awal cerita bermula sejak aku mengikuti rentetan acara "Live In" yaitu acara seminggu utuh bagi kami, para murid yang tinggal di kota dengan segala fasilitas dan kemewahan yang kami dapatkan, agar kami tidak hanya dapat bersimpati, tetapi juga ber-empati terhadap kehidupan pedesaan yang sangat jauh dari kata 'mewah.'
Saat itu, aku benar-benar bisa merasakan sebuah kehidupan yang sangat berbeda 180 derajat dari kehidupanku yang biasa ku lakukan di rumahku di kota. Dan saat ini, setelah 2 tahun sejak acara 'Live In' diadakan, aku kembali berkunjung ke desa Jaten tersebut. Dan apa yang ku temukan disana sangatlah menyentuh, dan menurutku itu adalah sebuah hal yang bisa dikatakan 'Wow' mengapa? karena ada hal yang ku perhatikan, dari sisi antropologi atau kemasyarakatan dari beberapa penduduk desa jaten tersebut, ya memang bisa dibilang, aku hanya seperti mengambil sampelnya saja...


- Hal pertama yang ku perhatikan setelah 2 tahun adalah, kehadiran kami saat 'Live In' berlangsung benar-benar berkesan bagi mereka, apalagi kita melewati masa 'Live In' tersebut selama 1 minggu penuh. Aku bisa menyimpulkan seperti ini karena pada saat aku melakukan obrolan santai bersama keluarga asuhku di tempat 'Live In' ternyata mereka masih benar-benar mengingat nama-nama kita, dan kegiatan apa saja yang telah kita lakukan di desa Jaten januari 2012 lalu. jujur, aku saja lupa, nama ibu pengasuhku saat itu, hehehehe.. Hal tersebut bisa ku anggap luar biasa karena mereka adalah orang desa, yang bisa dikatakan tingkat pendidikannya tidak seperti kita tapi mereka bisa mengingat dengan jelas kegiatan 'Live In' yang telah berlangsung kurang lebih 2 tahun sebelumnya. Mengapa bisa seperti itu? hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor.. Pertama, kegiatan 'Live In' yang kita laksanakan 2 tahun sebelumnya benar-benar bekesan bagi mereka, mereka sangat senang dengan keberadaan kami di desa Jaten tersebut. salah satu ibu di desa tersebut juga sempat bercerita, bahwa keadaan desa tanpa acara 'Live In' terasa sepi, hanya kegiatan perkumpulan penduduk yang biasa dilakukan 1-2 minggu sekali saja yang membuat keadaan di desa tidak terlalu membosankan...

 - Hal kedua yang perhatikan adalah ketika Ibu bercerita tentang kematian salah satu tetangga yang menurutku ada sebuah kejanggalan dari cerita ibu tersebut, karena alasan kematian tetangga itu adalah bunuh diri, dengan menyeburkan diri ke dalam sumur... hmmmm mungkin aku yang tidak mengetahui kronologi dari kejadian tersebut bisa menyebut hal ini janggal karena mungkin saja tetangga tersebut mengalami kecelakaan keja seperti terpeleset atau karena hal lainnya... Hal kedua ini cukup unik, karena menurut pendapatku, dengan cerita ini, warga desa akan dengan otomatis mempercayai suatu hal tanpa ada penyelidikan lanjut terlebih dahulu. Kenapa bisa begini tentu saja dilatarbelakangi oleh pendidikan yang sangat minim. Tidak hanya itu, saat aku mendengar cerita tersebut, tidak ada ekspresi khusus dari Ibu tersebut, hal ini bisa jadi, mereka sudah terbiasa dengan cerita-cerita yang sifatnya janggal dan menyeramkan seperti itu. Sebenarnya hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada tindak lanjut khusus, bukan mengenai peristiwa kematian, tetapi sifat warga desa yang masih terbelakang. Seharusnya ada semacam sekolah desa yang mengajarkan mulok, bimbingan konseling, maupun pengembangan kepribadian dan semacamnya... hmmmmm


berikut adalah bukti bahwa bapak ibu tersebut masih mengingat nama anak asuh mereka

dan kiranya cukup sampai disini ppembahasan saya mengenai desa Jaten, dan kehidupannya setelah 2 tahun tidak berkunjung. Kesimpulan yang saya ambil adalah, tidak ada yang berubah sejak 2 tahun lalu, dan memori yang terbentuh setelah 2 tahun, masih sangat mengena di hati dan pikiran mereka...
sekian :D

-keadaanlah yang membentuk 'mereka,' dan hati yang menjalankan kehidupan 'mereka'-
-Ponang Adi Nugraha-

Minggu, 01 Desember 2013

Mengambil Keputusan Sulit


pada tulisan kali ini saya akan membagikan pengalaman saya amengenai pengambilan keputusan...
dalam beberapa tulisan terakhir, saya banyak membahas tentang 'Pindah Jurusan' dalam perkuliahan, dan inilah awal dari kepindahan jurusan yang saya lakukan, dengan mengambil keputusan yang akan berdampak besar pada masa depan saya...

hmmm... sebuah kata yang sangat simple, tapi berdampak sangat besar terhadap kehidupan... Setiap manusia, pada saatnya akan di hadapkan kepada pilihan-pilihan yang sangat berat, dan keputusan yang akan kita ambil akan sangat berpengaruh dengan apa yang akan kita lakukan di masa depan... Dan ini adalah saatnya bagiku untuk mengambil keputusan itu, keputusan untuk keluar dari universitas tempatku kuliah saat ini, yaitu Sanata Dharma, tepatnya keluar dari prodi TI. awalnya memang banyak pertimbangan yang di hadapkan padaku, mulai dari biaya yang sudah di keluarkan, waktu yang akan ku buang, kehormatan diriku sendiri, dan masih banyak lagi pertimbangan yang menyurutkan niat untuk pindah. Tetapi faktor ketidaknyamananku disini lebih besar dari itu semua, jika itu masalah biaya yang sudah di keluarkan, aku bersyukur mempunyai orangtua yang mampu membiayakan ku untuk kuliah sekali lagi di tempat yang berbeda sesuai dengan minat dan bakatku, untungnya aku belum membayar uang sekolah secara utuh hhehe. dan pertimbangan kedua mengenai waktu. Ya dengan ini aku telah kehilangan waktu selama 2 tahun, tetapi apa jadinya jika aku menjalani ketidaknyamanan ini selamanya, aku akan kehilangan kebahagiaan dan semangatku untuk tumbuh.



mengambil kata-kata dari sesepuh Mario Teguh, "sebagai anak muda, kita harus berani mengambil resiko, jangan menunggu hingga kita tidak cocok lagi untuk mengambil resiko, selagi muda, ambilah resiko sebanyak2nya dan belajarlah dari situ" (kurang lebih seperti ini) itu salah satu kalimat yang memotivasiku. dengan itu aku sadar bahwa aku masih muda, selama ini aku merasa sudah terlambat untuk melakukan hal seperti mengambil resiko, but, hey i'm still 19 years old here... hahaha...
seorang pendeta, di kota Solo juga sempat memberiku motivasi lewat kata2nya. Saat itu dia berkhotbah tentang mengambil langkah yang radikal, dan percaya bahwa Tuhan menyanggupi kita. selama ini aku sudah terlalu sedih akan keadaanku, aku berfikir, kenapa aku bisa sampai di tempat ini, kenapa Tuhan merencanakan hidupku seperti ini, seharusnya aku tidak boleh sedih, jika tahu Tuhan sedang membangun jalan yang baik untukku.. Dan aku sadar ini adalah berkat Tuhan yang paling luar biasa di dalam hidupku, aku menganggap pengalamana yang kujalani selama di Jogja sini merupakan retret terlama dan paling banyak pelajaran yang ku dapatkan. Dengan segala keletihan hati, keputusan yang radikal, langkah2 penting dan sulit ini, aku ingin membagikannya kepada orang banyak, dan menjadikan hidupku sebagai pelajaran yang berarti dan memotivasi orang lain...

kembali lagi soal mengambil keputusan, ada beberapa hal yang harus kita persiapkan..
Pertama: kita harus memikirkan resiko yang akan kita hadapi setelah mengambil keputusan
kedua: menimbang-nimbang apakah keputusan yang kita ambil tersebut adalah tepat
ketiga: kita harus membuat rencana matang, tentang hal apa saja yang akan kita lakukan setelah mengambil keputusan
keempat: kita harus menyakinkan diri kita atas keputusan yang akan kita ambil akan berdampak baik pada diri kita
kelima: mengkaji kembali apakah keputusan kita adalah tepat, kita harus banyak belajar dari pengalaman orang lain yang pernah di hadapkan pada situasi yang kurang lebih sama seperti kita saat hendak mengambil keputusan
keenam: ambil keputusan dengan tegas dengan segala pertimbangan yang telah di diskusikan dan berbagai macam resiko yang akan di hadapi
ketujuh: untuk menyempurnakan keputusan yang akan kita ambil, inilah yang terpenting, Percaya dan Berdoa bahwa keputusan yang kita ambil adalah tepat, dan inilah jalan yang Tuhan rencanakan untuk kita..
hmmm, itulah pengalaman yang saya hadapi dalam mengambil keputusan.. awalnya memang sulit, tetapi aku bersyukur, aku masih mendapatkan dukungan untuk ini, banyak motivasi yang tepat dan mengena di dalam diriku, sehingga aku berani mengambil resiko di balik keputusan ku ini.

hal hal yang akan terjadi selanjutnya akan ku bahas di dalam tulisan selanjutnya... saat ini aku hanya bisa berbagi pengalaman singkat mengenai keputusan, dan persiapan dalam mengambil keputusan yang sangat sulit tersebut. dalam beberapa bulan aku akan membagi pengalamanku atas hasil keputusan yang radikal ini...
semoga bermanfaat, Tuhan meyertai kita semua ^_^