Minggu, 15 Desember 2013

Fenomena Salah Jurusan

 

    Salah jurusan kerap kali terjadi pada masa transisi, dimana kita diletakkan di suatu tempat di perguran tinggi yang tidak sesuai dengan minat dan bakat kita. Hal ini akan terdengar awam oleh anak-anak SMA yang belum pernah merasakannya. Karena belum merasakan kehidupan yang akan terjadi setelah lulus...

    Salah Jurusan menjadi hal, yang umumnya ditakuti oleh mahasiswa baru (maba) yang hendak memulai jenjang perkuliahan. Banyak hal, yang menyebabkan seseorang bisa merasa bahwa ia salah jurusan, dan yang paling umum adalah tidak adanya semangat dalam mempelajari sesuatu yang telah kita pilih di dalam jurusan tertentu. Dan seiring berjalannya waktu, mereka yang mendapati dirinya salah jurusan dengan tidak adanya semangat dalam mempelajari suatu bidang, akan menemukan berbagai macam alasan tambahan seperti; ketidakcocokan dalam kehidupan sosial, ketidak sanggupan dalam mengikuti suatu mata kuliah, dan lain-lain.

     Salah jurusan berawal dari saat kita lulus SMA. Saat itu, kita akan mulai memilih jurusan kuliah dengan harapan, dapat menopang masa depan kita dengan sangat baik. Pada saat itu (saat-saat pencarian jati diri), untuk sementara waktu kita melupakan apa yang menjadi kesenangan kita terhadap suatu bidang pelajaran. Contohnya; pada pengalamanku saat itu, aku memilih IT karena mempunyai prospek yang bagus, mudah untuk mendapatkan kerja, dan dengan gaji yang tidak sedikit. Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Saat itu aku lupa, aku mempunyai kemampuan lebih untuk mengolah seni, dan kreativitas yang sangat baik, dan aku sangat semangat dalam mempelajari dalam dunia otomotif. Aku juga lupa terhadap kepuasan yang ku dapat saat aku menyelesaikan sebuah karya seni. Aku terlalu khawatir dengan masa depanku jika aku hanya mengikuti apa yang kusukai. 'Gaji yang besar,' hanya itu yang kuinginkan. Memang betul itu yang diinginkan setiap orang, jika kita berfikir realistis, dengan apa kita dapat menghidupi keluarga kita nanti, jika pendapatan kita pas-pasan, atau malah berkekurangan? tapi sudahlah, kita memang harus realistis, tetapi jangan melupakan pengharapan yang menjadi semangat kita untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Lihatlah orang-orang sukses dalam bidangnya masing-masing. Hal tersebut bisa terjadi karena mereka menjalani apa yang menjadi semangat mereka untuk terus tumbuh, dan berkembang. Jika itu mengenai hal "realistis," yang perlu kita sadari hanyalah persaingan yang semakin ketat, di dalam menempuh puncak tertinggi. Tidak akan ada jalan yang mudah dalam mencapai puncak keberhasilan kita, apa yang kita perjuangkan, itulah yang akan kita dapat. Seharusnya, persaingan dalam dunia kerja bukan masalah, karena kita menjalani kehidupan kita dengan enjoy. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan dan kepuasan diri. Seandainya banyak orang yang menyadari hal itu, hidup di dunia bukan lagi menjadi suatu hal yang harus ditakuti, tetapi bagaimana cara kita menikmati dunia, dan karunia yang disediakan Tuhan kepada kita. Tuhan menciptakan setiap manusia itu berkelebihan, kita harus sadari hal itu!

     Contoh mudah, dengan tujuan apa seseorang bercita-cita ingin menjadi guru? bukankah gaji guru tidaklah besar? Memang profesi guru saat ini menjadi opsional pekerjaan. Tetapi tidak sedikit juga yang menjadikan ini sebagai sebuah impian dan cita-cita. Karena di dalam profesi sebagai guru, ada kepuasan yang kita dapatkan, terutama ketika kita berhasil membuat anak murid kita mengerti dengan apa yang kita ajarkan. Memang tidak dibayar dengan harga yang mahal, tetapi hal itu merupakan sebuah kepuasan diri yang tidak bisa dibeli! kita akan selalu merasa berkekurangan, ketika kita mengejar uang di dalam pekerjaan. Meskipun kita harus tetap realistis terhadap dunia, kita tidak bisa hidup tanpa uang, tetapi tanpa uang, kita bisa bahagia. Hal inilah yang belum bisa dimengerti oelh kebanyakan orang. Apa lagi yang bisa kita tuntut dari Tuhan? Sedangkan Ia sudah memberi kita 'Kasih' yang tidak ada harganya. Apa alasan kita hidup? Untuk jadi kaya dalam harta dan memuliakan banyak orang? Untuk tumbuh di dalam iman, mempelajari esensi kehidupan dan mengabarkannya kepada banyak orang? Atau hidup untuk melayani sesama, dengan atau tanpa bayaran? Hidup itu mudah, Tuhan telah menyediakan segalanya ada, dan menuntut pekerjaan dari kita, tetapi dunia'lah yang membuat semuanya menjadi susah. Temukan alasan kamu hidup di dunia! renungkanlah! untuk apa kamu melakukan semua yang telah kau lakukan?

     Saat masuk ke dalam dunia perkuliahan kita akan tahu dan akan mengerti mengenai 'salah jurusan.' fenomena ini akan banyak terjadi pada mahasiswa yang merasa bahwa 'ini bukan tempatku,' atau 'aku tidak merasakan semangat dalam mempelajari hal ini semua,' dan memang ini yang akan banyak terjadi di semester satu. Jarang ada mahasiswa yang menyatakan diri untuk keluar di semester 1, karena sesungguhnya itu masa-masa perkenalan. Tetapi bukan berarti mahasiswa yang menyatakan diri untuk 'out' tidak berfikir panjang, karena aku adalah salah satunya. Ada yang memilih untuk keluar dan berusaha menggapai jalannya sendiri, dan ada pula yang mengikuti arus dengan berusaha menetap. Saat itu kita akan dihadapkan pada pilihan sulit yang didasari pada pemikiran matang kita tentang masa depan. Fenomena salah jurusan akan banyak kita temui, tetapi pilihan dan keputusan yang diambil setelah itulah yang perlu banyak kita pelajari.

     Sempat, suatu saat aku 'ngobrol' dengan salah satu temanku, yang juga merasa salah jurusan. Dia memiliki pandangan dan keputusan yang berbeda dariku mengenai salah jurusan yang sempat dia rasakan. Sedikit cerita: saat ini dia kuliah di salah satu perguruan tinggi negri di Malang, dengan jurusan Teknik Pangan. Dia sempat merasa salah jurusan karena dia tidak merasakan semagat dalam mempelajari bidang yang ia jalani saat ini. Suatu saat, di dalam ke'galau'annya dia menemui hal yang membuat dia bersyukur, karena Tuhan telah menempatkan dia di tempat ia belajar saat ini. Suatu kali ada temannya yang berkata kepadanya, "tadinya jurusan lo itu, pilihan pertama gue loh," dan ada pula yang berkata "itu jurusan yang paling gue incer loh!" Tidak hanya itu, dia juga merasa tidak nyaman dengan proses pembelajaran yang dia hadapi di semester pertama, tetapi, salah seorang senior berkata kepadanya, "baru juga semester satu." Beberapa kutipan perkataan tersebut membuat dia semakin berfikir tentang apa yang dia jalani saat ini. Dan sampai pada akhirnya dia mendengar Khotbah mengenai 'rancangan' Tuhan, dan termotivasi oleh kata-kata seorang motivator yang berkata, "kalian berada di sini bukan karena suatu kecelakaan, Tuhan menempatkan kamu disini 'pasti' ada maksudnya." Dengan berbagai macam pertimbangan, dan kata-kata positif yang diucapkan orang-orang disekitarnya, dia justru semakin merasa bersyukur dengan keadaannya saat ini. Tidak banyak orang yang bisa seperti dia. Dia merasakan kehadiran Tuhan dengan cara yang berbeda denganku. Pada posisiku, aku mempelajari betul apa yang akan ku hadapi di semester mendatang, mengolah dan terus mencari jalan keluar. Aku menonton banyak acara motivasi, dan banyak membaca firman Tuhan. Ada dua poin utama yang membuatku berani  untuk 'bergerak keluar.' Yang pertama, motivasi oleh Mario Teguh, yang berkata "anak muda harus berani mengambil resiko dan mengeksplor dunia." kata-kata Mario Teguh tersebut hampir sama seperti yang dikatakan seorang pendeta di kota Solo bernama pak Obaja, dia berkata "buatlah keputusan yang radikal, dimana di dalam keputusan tersebut kita percaya bahwa Tuhan menuntun kita menuju arah yang lebih baik, keputusan untuk maju!" Dan yang kedua, ku dapatkan melalui firman Tuhan yang berkata "Janganlah kau kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah permohonanmu di dalam doa, dengan ucapan syukur!" kedua poin inilah yang membuatku berani melangkah dan maju, untuk menjalani hidupku, dan menyerahkan keputusanku di dalam Tuhan.

 Tuhan bekerja di dalam setiap hidup manusia, bahkan dengan sudut pandang manusia yang berbeda, tetapi tetap mengarah kepada hal yang sama, yakni demi kebaikan hidup kita, dan karena kasihNya kepada kita. Maka sudah seharusnya kita mengucap Syukur atas segala yang terjadi di dalam hidup kita, dan apa yang kita miliki saat ini, dengan tanpa melupakan 'hikmat' yang kita miliki...

Salah Jurusan? Temukan Jawabanmu di Dalam Tuhan!
-Tuhan Memberkati-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar