Rabu, 04 Desember 2013

JATEN after two years

kali ini aku akan benar-benar sharing tentang pengalamanku saat berkunjung ke desa Jaten kecamatan Argosari, tapatnya di Bantul Yogyakarta. Awal cerita bermula sejak aku mengikuti rentetan acara "Live In" yaitu acara seminggu utuh bagi kami, para murid yang tinggal di kota dengan segala fasilitas dan kemewahan yang kami dapatkan, agar kami tidak hanya dapat bersimpati, tetapi juga ber-empati terhadap kehidupan pedesaan yang sangat jauh dari kata 'mewah.'
Saat itu, aku benar-benar bisa merasakan sebuah kehidupan yang sangat berbeda 180 derajat dari kehidupanku yang biasa ku lakukan di rumahku di kota. Dan saat ini, setelah 2 tahun sejak acara 'Live In' diadakan, aku kembali berkunjung ke desa Jaten tersebut. Dan apa yang ku temukan disana sangatlah menyentuh, dan menurutku itu adalah sebuah hal yang bisa dikatakan 'Wow' mengapa? karena ada hal yang ku perhatikan, dari sisi antropologi atau kemasyarakatan dari beberapa penduduk desa jaten tersebut, ya memang bisa dibilang, aku hanya seperti mengambil sampelnya saja...


- Hal pertama yang ku perhatikan setelah 2 tahun adalah, kehadiran kami saat 'Live In' berlangsung benar-benar berkesan bagi mereka, apalagi kita melewati masa 'Live In' tersebut selama 1 minggu penuh. Aku bisa menyimpulkan seperti ini karena pada saat aku melakukan obrolan santai bersama keluarga asuhku di tempat 'Live In' ternyata mereka masih benar-benar mengingat nama-nama kita, dan kegiatan apa saja yang telah kita lakukan di desa Jaten januari 2012 lalu. jujur, aku saja lupa, nama ibu pengasuhku saat itu, hehehehe.. Hal tersebut bisa ku anggap luar biasa karena mereka adalah orang desa, yang bisa dikatakan tingkat pendidikannya tidak seperti kita tapi mereka bisa mengingat dengan jelas kegiatan 'Live In' yang telah berlangsung kurang lebih 2 tahun sebelumnya. Mengapa bisa seperti itu? hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor.. Pertama, kegiatan 'Live In' yang kita laksanakan 2 tahun sebelumnya benar-benar bekesan bagi mereka, mereka sangat senang dengan keberadaan kami di desa Jaten tersebut. salah satu ibu di desa tersebut juga sempat bercerita, bahwa keadaan desa tanpa acara 'Live In' terasa sepi, hanya kegiatan perkumpulan penduduk yang biasa dilakukan 1-2 minggu sekali saja yang membuat keadaan di desa tidak terlalu membosankan...

 - Hal kedua yang perhatikan adalah ketika Ibu bercerita tentang kematian salah satu tetangga yang menurutku ada sebuah kejanggalan dari cerita ibu tersebut, karena alasan kematian tetangga itu adalah bunuh diri, dengan menyeburkan diri ke dalam sumur... hmmmm mungkin aku yang tidak mengetahui kronologi dari kejadian tersebut bisa menyebut hal ini janggal karena mungkin saja tetangga tersebut mengalami kecelakaan keja seperti terpeleset atau karena hal lainnya... Hal kedua ini cukup unik, karena menurut pendapatku, dengan cerita ini, warga desa akan dengan otomatis mempercayai suatu hal tanpa ada penyelidikan lanjut terlebih dahulu. Kenapa bisa begini tentu saja dilatarbelakangi oleh pendidikan yang sangat minim. Tidak hanya itu, saat aku mendengar cerita tersebut, tidak ada ekspresi khusus dari Ibu tersebut, hal ini bisa jadi, mereka sudah terbiasa dengan cerita-cerita yang sifatnya janggal dan menyeramkan seperti itu. Sebenarnya hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ada tindak lanjut khusus, bukan mengenai peristiwa kematian, tetapi sifat warga desa yang masih terbelakang. Seharusnya ada semacam sekolah desa yang mengajarkan mulok, bimbingan konseling, maupun pengembangan kepribadian dan semacamnya... hmmmmm


berikut adalah bukti bahwa bapak ibu tersebut masih mengingat nama anak asuh mereka

dan kiranya cukup sampai disini ppembahasan saya mengenai desa Jaten, dan kehidupannya setelah 2 tahun tidak berkunjung. Kesimpulan yang saya ambil adalah, tidak ada yang berubah sejak 2 tahun lalu, dan memori yang terbentuh setelah 2 tahun, masih sangat mengena di hati dan pikiran mereka...
sekian :D

-keadaanlah yang membentuk 'mereka,' dan hati yang menjalankan kehidupan 'mereka'-
-Ponang Adi Nugraha-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar