Sabtu, 07 Desember 2013

Seiring Datangnya Kekuatan Besar, Datang Pula Tanggung Jawab besar

                Judul diatas mengingatkan kita kepada sebuah film superhero yag tidak lain dan tidak bukan adalah ‘Spiderman.’ Memang benar apa yang di katakana paman Ben. Begitu juga didalam kehidupan nyata ini, seseorang yang cukup kuat akan selalu diikuti dengan masalah-masalah dengan intensitas yang padat. Tuhan akan menyertakan orang kuat dengan masalah yang besar agar bisa ia dapat menyeselaikannya. Tuhan tidak akan memberikan masalah besar pada orang lemah, karena Tuhan tidak akan memberikan masalah di luar dari kemampuan kita untuk menanggungnya. Bagaimana dengan kehidupanmu dan masalah di dalamnya?



               Aku bersyukur terlahir sebagai Ponang Adi Nugraha karena Tuhan menyertaiku dengan berbagai masalah yang kuterima dan yang bisa ku tanggung, yang paling lama dan sarat akan pelajaran yang bisa ku terima dan ku tanggung adalah ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tinggal kelas yang ku alami saat kelas 5 begitu mengena dan terkenang, aku tidak bisa melukapan setiap menitnya saat aku mengetahui ketertinggalanku saat itu. Di waktu yang sama, aku memutuskan pilihan untuk pindah sekolah karena malu menjadi adik kelas dari teman-teman yang sebelumnya satu angkatan denganku. Sebuah keputusan sulit yang luar biasa yang bisa di ambil seorang anak SD berumur 11 tahun. Dari sekolah bernama Marsudirini di Bekasi, aku pindah ke sekolah bernama Mahanaim, yang letaknya tidak jauh dari Marsudirini. Saat itu aku merasa dengan kepindahanku, masalaku akan selesai begitu saja, tetapi tidak.
              
              Hari pertama di sekolah baruku, aku kembali shock dengan kenyataan yang kuterima bahwa aku sekelas dengan teman-teman yang seharusnya menjadi adik-adik kelasku. Tekanan batin yang sungguh berat bagi seorang anak SD, saat itu aku berusaha bangkit dan memang tidak mudah bagiku, butuh waktu lebih dari 3 bulan untukku menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku dan teman-temanku. Terkadang aku merasa lebih mampu dan menyombongkan diri atas umur yang lebih tua dari teman-temanku satu angkatan. Dan disinilah awal Tuhan menjamahku. Pengalaman tidak naik kelas membuatku selangkah lebih maju dari teman-teman sebayaku, entah itu dalam hal kedewasaan, ataupun pola pikir. Beruntung aku pindah kesekolah yang lebih mendekatkanku dengan Tuhan, yaitu Mahanaim. Sebelum itu aku seperti masa bodoh dengan makna dari kepercayaan itu sendiri. Misalnya dai saat teman-teman sebayaku bersekolah minggu, aku lebih memilih duduk di tangga dan bermain sendiri, tanpa memperdulikan pelajaran apa yang ku dapat.
               
           Mahanaim berhasil memberikan pelajaran dan pengalaman yang sangat berarti bagiku, terutama dalam kehidupan sosial beserta masalah yang ada di dalamnya. Lalu berlanjut kedalam kehidupan SMP ku. Ya, di dalam kehidupan SMP, aku kembali menjadi Ponang si pemalas. Aku belum benar-benar memikirkan masa depanku saat itu. Yang ku pikirkan singkat saja, hanya teman, dan permainan didalamnya. Masa-masa SMP bukan menjadi masaku untuk mencari jati diri, tetapi masa untuk bermain dan mencari banyak teman. Dan betul saja, memang banyak sekali taman yang ku dapatkan dan sampai saat ini masih terkenang di dalam pikiranku. Ku rasa masa SMP adalah masa-masa terindah di dalam kehidupanku, hhehe… banyak pertemanan yang ku jalin, dan sedikit bumbu cinta monyet di akhir pekan.

Berlanjut ke masa SMA, disilah aku melakukan gebrakan, bahkan sudah ku mulai di saat pertamakali aku duduk di bangku SMA. Bukan lagi menjadi Ponang si pemalas, hal itu sudah hilang di kelas 10. Saking rajinnya, aku berhasil mendapatkan rangking di kelasku, memang bukan rank 3 atau 5 besar, hanya ranking 7 danri 35 siswa. Mungkin hal itu bukanlah prestasi, atau mungkin kejatuhan bagi anak yang selalu mendapatkan ranking 5 besar sejak kecil, tetapi bagiku yang pernah tinggal kelas ini, hal ini merupakan suatu hal yang luar biasa yang bisa kudapatkan di dalam hidupku… beranjak dari situ, aku bisa masuk ke dalam kelas IPA yang saat itu masih dianggap superior, karena berisi anak2 cerdas yang saling bersaing. Tentu saja aku tidak mau kalah dengan mereka. Semangat yang timbul menggebu-gebu di awal akhirnya runtuh ketika aku mulai menyukai seseorang yang akhirnya menjadi pacar pertama ku. Selama 2 tahun aku menjalin hubungan dengan dia, dan ku rasa hal ini yang menjadi penghambatku untuk maju dalam pengembangan diriku, tetapi hal ini juga yang memberiku pelajaran berarti tentang kehidupan berpasangan, ya kehidupan cinta. Memang indah, tapi menjatuhkan. Masa-masa SMA ku lewati dengan sangat sulit dan dengan banyak kejatuhan yang ku hadapi, disini kehidupanku kembali diuji dan diingatkan Tuhan..

Berhasil melalui Ujian nasional dan lulus SMA dengan nilai pas-pasan membuatku berfikir kembali, apakah IPA adalah jurusan yang tepat bagiku di saat SMA? Hmmm mungkin tidak, tapi aku tahu rencana Tuhan meletakkan ku di sana adalah untuk lebih mendewasakan aku dan memberikanku pelajaran yang sangat berarti mengenai kehidupan yang sebenarnya. Dan inilah berkat Tuhan sesungguhnya yang menberikanku berbagaimacam rintangan sulit yang Tuhan tahu bahwa aku bisa menghadapii dan menyeselaikannya.

Saat lulus dan tidak diterima di perguruan tinggi negri dengan jurusan yang ku mau, membuatku jatuh dan memilih alternatif lain, dengan jurusan  yang memiliki prospek tinggi, hal ini juga sudah ku jelaskan di tulisan sebelumnya dalam ‘antaraPassion dan Waktu’ dan ‘Mengambil Keputusan Sulit.’ Tidak hanya masalah ketidak cocokan di dalam mengambil jurusan kuliah, masalah cintapun juga menimpaku di saat yang sama. Kedua hal itu sempat menjatuhkanku ke jurang terdalam di dalam kehidupanku. Aku tidak bisa berfikir jernih dan matang tentang apa tujuanku setelah ini karena pemikiran yang tebagi-bagi atas masalah yang kuterima. Memang sulit untuk bangkit, tapi pengalaman membentukku, aku Tahu aku kuat sehingga Tuhan memberikanku berkat masalah yang besar bagiku. Aku selallu menjadikan masalah sebagai berkat, karena di dalam setiap masalah’lah kita tumbuh dan berkembang. Aku kembali berfikir, mengapa Tuhan meberikanku ini, karena aku tahu Tuhan tidak akan memberikan masalah tanpa alasan. Aku kembali flashback tentang apa yang ku alami selama setahun penuh. Dan aku sadar Tuhan menempatkanku di Jurusan ini (TI)  bermaksud untuk menyadarkanku atas passion dan semangatku selama ini yang sudah lama hilang, dan kenapa di Jogja, juga Tuhan bermaksud untuk mendidikku denga keras, untuk kemandirianku dan menyelesaikan sendiri setiap masalah yang ia curahkan kepadaku. Dan mengingat masa kelas 10 dimana aku dapat melakukan akselerasi dengan sangat cepat dan berhasil sampai di puncak kehidupanku saat itu, saat aku tidak mempunyai pacar hehehe. Aku kembali sadar maksud Tuhan menjauhkanku dari pacarku saat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mebuatku lebih rajin dan sadar bahwa Tuhan ingin berkata ‘Ponang, kemampuan kamu lebih dari pada ini, Aku tahu, dan inilah maksudKu atas semua yang terjadi kepadamu, perjuangkan hidupku, berhentilahh bermalah-malasan.’ Aku juga mulai sadar, masa2 pacaran yang memberiku banyak pelajaran, di lain sisi merugikanku dalam masalah pengembangan kepribadian, dan kemampuan hidupku. Dan inilah berkat Tuhan yang sesungguhnya, dia memberikan anakNya sebuah masalah besar karena Tuhan tahu kemampuan kita lebih besar dari semua yang kita hadapi, dan Dia ingin menyadarkan sesuatu tentang hal yang baik yang telah hilang dalam diri kita…

Ingat !! TUHAN PUNYA RENCANA… yang pastinya lebih indah dari apa yang kita pikirkan. Dia memberikan masalah sesuai dengan porsi kekuatan, ketahanan dan kemampuan kita sebagai anakNya. Seperti apa masalahmu? Temukan jawabannya di dalam Tuhan, selamat menikmati masalah yang Ia berikan kepadamu… pasti ada maksudnya ^_^ GBU…

Seiring Datangnya Kekuatan Besar, Datang Pula Tanggung Jawab besar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar