Minggu, 14 Desember 2014

Kenangan

KENANGAN...
Sesungguhnya untuk apa kenangan itu ada? Untuk kita ingatkah? Untuk kita harapkan kenangan itu akan terulang kembali? Saat ini gue berada pada kondisi dimana kenangan yang mengendalikan gue. Gue selalu teringat akan masa lalu, masa-masa yang gue anggap lebih baik dari masa sekarang. Saaat dimana gue tidak merasakan takut, gue tidak merasakan kesepian dan kesendirian. Dan mengapa saat ini gue merasa masa lalu itu selalu lebih baik dari masa sekarang? Setelah berfikir panjang akhirnya gue tau bahwa gue orang yang tidak bisa bersyukur untuk hari ini. Gue teringat saat gue menuntut Tuhan untuk masa sekarang. Dan sekarang gue menuntut masa lalu itu kembali lagi.
Bingung, itu kata yang paling tepat dalam mendeskripsikan keadaan gue saat ini. Mungkin karena krisis kebahagiaan yang gue alami saat ini. Saat ini gue sangat jarang merasa senang, apakah ini tanggung jawab yang harus gue ambil untuk masa depan yang lebih baik? ada firman Tuhan yang bunyinya “saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebagaiaan apabila kamu jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan. Sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan, dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna, dan utuh, dan tak kekurangan suatu apapun.” Disini gue berfikir, bagaimana gue bisa merasa bahagia di tengah-tengan pencobaan, ada juga overthinking yang gue dapat.
Belum genap 4 bulan semenjak gue mulai berkuliah di UGM, tetapi rasanya seperti setahun. Gue merasa segalanya yang terjadi saat ini sangat lama. Bahkan ketika pagi ini gue melihat kalender, ternyata belum ada 4 minggu atau 1 bulan semenjak kepulangan gue ke Bekasi. Saat ini sampai di titik dimana gue tidak tahu jalan apa yang harus gue ambil. Satu hal yang pasti, gue harus bisa lebih bersyukur atas keadaan gue saat ini. Belajar bersyukur, gue rasa itu kuncinya. Memang sedikit sulit untuk menyatakannya dalam keadaan gue saat ini, tapi yah... perjuangan itu tidak semudah meminta makan kepada orang tua, dimana saat kita meminta, disitu ada orang lain yang berjuang untuk kita, dan sekaranglah saatnya gue yang memperjuangkan hidup gue sendiri, sakit ini, pencobaan ini, kesepian ini, kesendirian, kehampaan, harus gue tanggung, bagaimanapun juga gue harus bisa berfikir, ini semua untuk memperoleh “buah yang matang” ^_^

STRES ?

Stress...
9 desember 2014
Saat ini entah kenapa gue merasa stress lagi. Dimulai dari saat minggu malam, dimana gue mendapat mimpi yang sangat panjang dan sangat aneh, ibu datang ke kosan, bertemu dengan teman2 SMA, pindah rumah kos, jalan2 ala backpaker, tetapi entah kenapa setelah rangkaian mimpi itu selesai, aku merasakan keadaan yang tidak damai. Dan ini berlanjut sampai hari ini, ini hari selasa, sehari setelah mimpi itu terjadi.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, bahkan yang ku rasakan. Tetapi satu hal yang pasti, aku merasakan keadaan tidak damai di dalam hatiku. Hal ini terasa sangat tidak menyenangkan. Aku harus mengawali hariu dengan kebersungut-sungutan.
Ketika aku mendengar beberapa lagu dari sari simorangkir, aku kembali teringat pada masa dimana aku masih berkuliah di Sanata Dharma, dan entah kenapa aku sangat menyayangkan kepindahanku. Kenapa baru saat ini terpikirkan olehku, kenapa saat itu aku tidak pindah jurusan saja, dengan menambahkan nilai-nilai dari semester 1 dan 2 yang bisa dimasukkan ke dalam KRS teknik mesin SaDhar. Penyesalah adalah hal yang paling ku hindari saat ini, tetapi ini terjadi padaku saat ini. Caraku bercerita dengan tulisan pun ku lakukan karena aku sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi padaku, dan apa yang akan ku ceritakan kepada oranglain. Aku rasa ini bukan menganai salah jurusan yag kedua kalinya, tetapi karena aku yang sulit beradaptasi, semoga saja begitu.
Aku sangat tidak mengharapkan salah jurusan. Hal ini telah membuatku frustasi di masa lalu, bahkan aku bisa tidak berfikir jernih karena hal ini.
Inlah lagu yang mengingatkanku pada saat-saat dimana aku kuliah di Sanatha Dharma:
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MukjizatNya disediakan bagiku
Ku di angkat dan dipulihkanNya.
Yah itulah potongan lagu yang membuatku teringat pada masa lalu itu. Aku ingat ketika aku setress karena salah jurusan dan beberapa masalah pribadi dalam diriku saat itu, setahun yang lalu. Aku ingat ketika aku selalu menangis saat doa pagi, berharap semuanya akan berubah. Dan aku juga ingat saat aku berharap masuk UGM. Tetapi kenapa saat aku berusaha mengingat masa-masa itu, aku teringat kembali dan berharap aku bisa berada pada kondisi itu, karena fakta yang kuterima saat ini adalah ketidaknyamanan hati. Mungkin terkadang aku harus bercerita kepada anak psikologi dan mengkonsultasikan ke bimbangan ku dalam menjalani kehidupan di sini, semoga saja hal ini terjadi semata-mata karena aku homesick, bukan karna hal lain yang membuatku berada pada kondisi tidak nyaman ini..
Aku akui, satu hal yang sulit untuk ku lakukan adalah bersyukur. Aku selalu merasa masa lalu yang terajadi padaku selalu lebih baik dari pada saat ini. Sehingga aku selalu merasa tidak puas dengan apa yang ku dapat saat ini, kondisi ini, keadaan ini, status baruku sebagai mahasiswa UGM. Aku memang selalu melihat ke belakang untuk bersyukur, tetapi kadang hal yang kusyukuri itu terasa lebih baik dari saat ini, dan ketika aku berfikir tentang itu pula, aku jadi saat ini kembali ke masa lalu, memperbaiki semua kesalahan yang kuperbuat, mengulanginya dan memilih keputusan yang paling tepat agar ketidaknyamanan saat ini bisa ku hilangkan...
Aku mempunyai ayat emas tentang hal kehawatiran dan pencobaan:
Filipi 4 : 6 “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Yakobus 1 : 2-4 “saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh kedalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Yahh, inilah akur tulisanku pada pagi hari ini tertulis 5.37 tanggal 09-Desember-2014, saatnya aku bersiap-siap untuk masuk kuliah...
Terimakasih Tuhan, aku masih bisa menulis dan berbagi cerita tentang ketidaknyamananku dan segala hal yang menyangkut di dalam hatiku, aku tahu sangat tahu, Kau ada disini saat ini untuk mengangkatku, berkati keluargaku yang selalu mendukungku, dan tiba saatnya nanti aku akan membahagiakan mereka dengan kesuksesanku, kuatkan aku dalam setiap cobaan ini ya Tuhan, aku berterimakasih hanya padaMu saja Yesus..

Jati Diri

Jati Diri
29-11-2014
Setelah 20 tahun lebih gue hidup, gue masih bingung, sebenarnya siapa gue? Apa yang gue bisa di dalam hidup? Hidup gue ini berdampak terhadap orang lain atau tidak? Yah, kebingungan jati diri ini gue dapat ketika gue terkatung-katung dalam kehidupan kuliah gue, yaitu kehidupan setelah lulus SMA pada tahun 2013 silam. Di kampus lama gue, Sanata Dharma, gue menemukan diri gue salah jurusan, dan di lingkungan baru gue, UGM, gue menemukan diri gue salah lingkungan. Gue sendiri terkadang bingung apa yang sebenarnya apa yang gue pingin. Inilah hidup, selalu ada perubahan, cepat atau lambat, kita sebagai manusia hanya bisa pasrah terhadap perubahan dan mengikuti arus perubahan itu. Jika kita tidak bisa mengikutinya, ketertinggalan lah yang kita dapat.
Awalnya gue berfikir hidup gue akan berjalan sesuai dengan bayangan indah gue semasa SMA akan apa yang akan terjadi di masa depan, yaitu masa dimana gue akan menjalani kehidupan kuliah gue. Tetapi inilah yang gue dapat, entah karena gue tidak bisa berkembang dengan baik, pertumbuhan metal gue yang lambat, sikap gue yang childish, atau karena gue yang banyak maunya dengan modal sedikit. Kebingungan, gue rasa itu defisini yang paling tepat untuk hidup gue saat ini. Setelah melalui pergumulan panjang dan lika liku kehidupan yang terkatung-katung ini, akhirnya perlahan bisa mendefinisikan secara rinci apa yang terjadi di dalam hidup gue. Yah, gue ini orang yang plin plan, tidak tegas dalam mengambil keputusan, dan banyak maunya. Sepertinya banyak hal yang tidak baik yang tertanam di dalam hidup gue. Entah kenapa ini terjadi setelah gue lulus SMA. Jika gue mencoba flashback terhadap kehidupan gue dari SD sampai SMA, semua dipenuhi dengan hal hal yang indah. Aku tidak mengingat hal yang membuatku merasa khawatir dimasa-lalu, apa mungkin itu adalah karena masa lalu. Tentang masa depan dan masa sekarang? Ini masih menjadi pertanyaan buatku. Siapa aku sebenarnya? Dan akan jadi apa aku sebenarnya? Aku bisa saja memiulih masa depan yang seperti apa, tetapi tidak bisa menentukan jalan yang harus aku tempuh, karena semua sudah dirancangNya. Satu hal yang kuimani, aku hanya harus percaya rancanganNya adalah yang terbaik untuk membentuk hidupku.
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” – Amsal 16:9

Jogja dan Sakit Hati

JOGJA dan Sakit Hati
26 November 2014

Lagi, gue merasakan homesick di Jogja, setelah 3 bulan berada di sini, sepertinya gue belom benar2 bisa meninggalkan kenyamanan yang gue dapet di bekasi. Pagi ini juga gue sempat menonton video yang berisi tentang “Forgiveness” yaitu pengampunan, dan gue kembali teringat tentang sakit hati yang gue dapat setahun yang lalu. Sakit hati dari orang yang paling gue peracaya semasa SMA. Entah bagaimana cara melupakannya, satu hal yang gue yakin, hal ini sulit untuk dilupakan. Bahkan ketika gue mencoba melupakan dan memaafkan segala yang telah terjadi, hati gue seakan menjerit dan menangis, seperti sulit untuk menerima apa yang telah terjadi setahun lalu. Gue sudah sangat berusaha meresapi “KASIH” dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari gue, dan pengampunan akan sakit hati inilah yang tersulit dari antara definisi kasih itu sendiri, yakni kasih yang memaafkan tanpa pamrih. Gue teringat lagu yang dibawakan Maria Shandy yang berjudul Mengampuni, dan isinya yang sangat dalam buat gue dalam hal mengampuni.
“Ketika hatiku t’lah disakiti, ajarku memberi hati mengampuni, ketika hidupku t’lah dihakimi, ajarku memberi hati mengasihi. Ampuni bila kami tak mampu mengampuni yang bersalah kepada kami, seperti hati Bapa, mengampuni, mengasihi tiada pamrih”
Sulit buat gue melupakan, fitnah, caci maki, dan segala rasa sakit hati yang gue terima dari orang yang saat itu bahkan masih menjadi orang lain yang gue sayang. Gue sadar, hal itu hanya menyita waktu gue sampai saat ini, beruntungnya setelah melewatii quartal pertama tahun 2014 ini, gue perlahan-lahan berhasil move-on dan melupakan. Disinilah hidup gue mulai dibangkitkan Tuhan, ketika gue rela memaafkan apa yang telah terjadi. Mungkin hidup gue saat itu, saat merasakan sakit hati yang dalam itu, telah sangat berubah dari saat gue belum menerima sakit hati itu. Tetapi ketika gue melihat keadaan gue saat ini, gue sadar, cobaan itu semata-mata hanya untuk melatih penguasaan diri gue terhadap perasaan sakit hati.
Yah... sepertinya perasaan homesick ini membawa gue kembali mengingat segala kejadian yang terjadi di Bekasi. Karena faktanya, ketika gue berada di bekasi, yang gue dapat adalah ketenangan hati dan jiwa, gue menjalin kebahagiaan semua berawal ketika gue di bekasi, awal dari cinta, awal dari kebahagiaan, awal dari pemulihan. Sementara, selama gue di Jogja, yang gue dapat adalah sakit hati, salah jurusan (pada semester awal 2013), homesick, dan banyak perasaan yang tidak nyaman saat gue mulai hijrah ke kota pelajar ini. Entah apa yang terjadi pada gue pada tahun ini, yang membawa gue kembali ke Jogja, tempat yang seharusnya paling gue jauhi, karena menyimpan kenagan buruk. Yahh.. setidaknya itu adalah pikiran negatif yang perlahan mulai gue lupakan. Karena gue sadar, gue berada disini, dan ditempatkan disini untuk yang keduakalinya adalah karena rencana Tuhan yang pastinya Indah di dalam hidup gue. Mungkin belum saat ini, tetapi tidak sampai 4 tahun lamanya. Karena apa yang terjadi di semester baru di kampus baru ini adalah awal, ya, baru 3 bulan lamanya gue kuliah secara efektif di UGM. Bukan salah jurusan yang dapat, tetapi ketidaknyamanan lingkungan baru gue ini. Entah mengapa bisa begini, dulu di Sanata Dharma gue merasa mendapatkan lingkungan baru yang tepat tetapi dengan jurusan yang salah, tetapi di UGM ini gue mendapatkan jurusan yang tepat tetapi dengan lingkungan yang tidak tepat. Fiuh... ketidaknyamanan lingkungan ini PR yang besar untuk cepat gue tuntaskan. Beruntungnya gue punya komunitas gereja dari GKJ Bekasi Bambu Kuning yang bisa menenangkan hati gue dikala galau dengan kegiatan Sharing, bernyanyi, dan mendengarkan firman Tuhan.
“Waktu Tuhan bukan waktu kita, jangan sesali keadaannya... Untuk semua pada waktu Tuhan, tetap setia mengandalkanNya... Segala yang terjadi di hidupku, janji Tuhan menghidupiku selalu, ku yakin, percaya, pada waktunya Tuhan, semua’kan ndah pada waktunya ”

Sabtu, 15 November 2014

Kuasa Tuhan

Ini adalah sedikit kisah kesaksian betapa Tuhan sungguh bekerja di dalam hidup kita. Entah bagaimana cara ia menjamah kita, sering kali tanpa sadar kita mendapatkan sentuhan tangannya di dalam hati kita. Seperti yang terjadi padaku beberapa saat ini, tepatnya di awal hingga pertengahan bulan November 2014. Pada masa-masa ini, keuanganku sedikit kacau, kurang lebih 2 minggu sebelum kepulanganku ke Bekasi di tanggal 15 Novembernya aku hanya makan 2 kali sehari, bahkan terkadang hanya 1 kali. Aku harus benar-benar bijak menggunakan uang. Suatu saat di minggu pertama bulan November ada ajakan teman-teman kuliah untuk membuat baju jurusan dengan harga 115ribu, Karena pembelian jaket itu tidak mengikat ataupun memaksa, aku harus rela tidak memesannya demi menghemat uangku. Di kampus, akupun aktif di dalam kegiatan unit kerohanian kristen (UKK) sebagai tempatku untuk melayani. Pada hari rabu, 3 hari sebelum kepulanganku, uang yang tersisa pada tabunganku hanya sekitar 100rb, dan di saat itu pula, uang yag tersisa di dompetku hanya ada sekitar 80ribu, yang akan ku gunakan untuk berbagai macam keperluan dan pastinya untuk makan selama 3 hari. Dan pengeluaranku semakin terkuras ketika aku harus membayar baju seragam untuk kegiatan kepanitiaan natal UKK sebesar 65ribu yang harus ku transfer melalui ATM atas permintaan koordinator. Akhirnya uang tabungan yang hanya tinggal 100rb ku pakai untuk membayar baju yang saat itu mendesak untuk di bayarkan, yang berarti aku harus membayarnya sore itu juga. Akhirnya aku tidak bisa lagi mengambil uang sepeserpun dari ATM 50.000, dan sangat jarang kutemui ATM dengan nominal 20.000, dan itu berarti aku harus menggunakan uang yang tersisa 80 ribu di dompet untuk segala macam keperluan dan pemenuhan isi perut selama 3 hari, yah sepertianya aku harus mencoba berpuasa terlebih dahulu, hhehehe. Sore itu aku menghadiri arisan kelas di rumah salah satu teman sekelas di kampusku, rumah Gusda, yang tidak lain adalah tempat kos ku. Disitu aku diwajibkan membayar 5ribu untuk ikut ambil bagian di dalam arisan. Bercengkrama dengan teman-teman membuat sore itu sedikit lebih terisi. Setelah semuanya berkumpul, kita memulai kocokan arisan yang hasilnya akan di bagi 2. Pada kocokan pertama, nama yang keluar adalah Gimel dan Iqbal, tetapi karena Gimel tidak hadir saat itu, maka kocokan kembali diulang untuk 1 orang saja. Saat kocokan keluar dan mulai dibacakan oleh salah satu temanku yang saat itu berkata, "wah, buat pulang kampung ini." Ya, itu adalah aku. uang yang aku dapat dari arisan tersebut sebesar 75ribu, ditambah dengan uang yang ada di dompetku, semuanya menjadi 165ribu, dan aku tahu pasti itu akan cukup ku gunakan untuk makan 3 kali sehari sampai hari jumat. Aku sempat tidak sadar bahwa ini adalah kuasa Tuhan yang mencukupkanku. Hingga akhirnya aku harus meninggalkan arisan terlebih dahulu karena ada rapat untuk UKK sore harinya, dan aku baru sadar ketika pulang dari rapat. Beberapa hari sebelum itu aku berdoa agar dapat dicukupkan keuanganku oleh Tuhan Yesus. Kuasa Tuhan adalah kuasa Tuhan, aku yakin tidak ada kuasa yang kecil ataupun besar, setiap kuasaNya bernilai sama, dan inilah kuasa Tuhan di dalam hidupku. Terkadang kita tidak sadar dengan apa yang terjadi dalam hidup kita bahwa itu adalah oleh karena kuasaNya. Seperti firman Tuhan, "mintalah maka kau akan di beri, ketuklah maka pintu akan dibukakan." Aku telah berdoa dan memohon, dan apa yang terjadi padaku adalah jawabanNya terhadap doaku. Tidak ada doa yang terlalu kecil ataupun terlalu besar, semua didasarkan  pada keimanan kita dan ketulusan doa kita kepadaNya. Tuhan Yesus itu baik ^_^ :)

-RUMAH-

 4/11/2014
Sudah memasuki bulan ke 3 semenjak gue beralmamater UGM. Susah, senang, pasang, surut kehidupan menjadi mahasiswa untuk yang keduakalinya sudah gue rasakan. Tetapi sampai saat ini gue masih merasa hampa. Pelarian gue sampai saat ini adalah keluarga adik dari ibu gue (bulek/tante) karena disana gue merasakan suasana 'rumah' yang hampir seperti di rumah. Ya, suasana dimana gue bisa merasa tidak kesepian, dan tidak merasa hampa. Akhirnya gue sadar pusat dari ketidak betahan gue disini, di jogja. Bukan karena sekolah, bukan karena jomblo, bukan karena tidak mempunyai TV, laptop, ataupun fasilitas penunjang ketidakbosanan lainnya, tetapi karena kesendirian gue. Selesai kelas, gue gak merasakan arti sesungguhnya dari kata 'pulang'. Karena setelah sampai di kosan, yang gue temukan hanya kekosongan, hal ini yang selalu membuat gue galau. Jika Homesick adalah perasaan kangen akan rumah yang maksudnya adalah rumah di Bekasi, tetapi gue gak menemukan itu di Solo. Untungnya aku masih memiliki keluarga dekat yang bisa di jadikan sandaran ketika perasaan gue sedang gak karuan.

Teman gue satu-satunya adalah HP, benda mati yang hanya bisa di ajak mengobrol secara pasif. kadang kita malu untuk memulai suatu percakapan, tetapi buat gue tidak untuk saat ini. Di dalam kesendirian gue bisa menjadi orang yang lebih aktif dalam percakapan. Sayangnya, benda mati ini hanya bisa dijadikan penghilang rasa hampa sesaat, ketika seorang teman tidak melanjutkan percakapan lagi, saat itulah kehampaan dimulai lagi.

Saat gue nganggur di rumah memang yang gue lakukan hanyalah hal-hal tidak bermaanfaat dan sangat introvert. Online, baca komik, nonton film, sebuah kegiatan tanpa tidakan sosialyang melibatkan orang lain. Anehnya gue merasa tidak kesepian karena tahu dengan pasti, di bawah (di lantai satu) ada adek dan kakak gue, sore harinya ada yang akan pulang dari rutinitas kerja mereka, gue tidak pernah khawatir akan kelaparan karena selalu ada makan di dapur, akan ada makan-makanan yang enak di akhir pekan, dan gue bisa melakukan apapun yang gue inginkan di rumah. Rumah... adalah tempat yang gak akan bisa lepas dari kehidupan kita. Bukan dari bentuk dan tempatnya kita bisa merasakan perasaan berada di rumah, tetapi bersama dengan orang-orang yang secara alam bawah sadar kita kasihi yang sudah sangat erat menjadi bagian dalam kehidupan kita.
Sampai saatnya nanti gue lulus, dan kembali ke Rumah gue yang sesungguhnya, tulisan ini akan mengingatkan gue perasaan hampa ketika gue jauh dari rumah, merasakan banyak kegalauan dan ketidaknyamanan hidup

-Jesus Always with me- :D ^_^

Rabu, 17 September 2014

Hidup baru, problema baru, BERSYUKUR

tak terasa, sudah 1 semester aku nganggur, hhehe.. bukan berarti aku tidak mendapatkan apa2 dalam pengagguranku. Ya, setelah memutuskan untuk keluar dari Sanata Dharma dan berbagai macam pertimbangannya, aku kembali belajar giat dan berusaha untuk mendapatkan PTN dan jurusan yang aku inginkan, memang perjuangan yang tidak mudah dan penuh lika liku. Pada akhirnya aku terjebak disini, lagi. Ya, lagi, karena saat ini aku berada di kota yang sama dengan kota tempat aku menempuh jalur pendidikan S1 teknologi informasi di Sanata Dharma yaitu Jogja. Saat ini aku terdampar di Universitas Gajah Mada (UGM) dan menempuh jalur D4 atau bisa disetarakan dengan S1 dengan embel-embel Terapan (S1 terapan). Mengapa aku bilang terdampar, karena pada dasarnya aku tahu bahwa keputusanku keluar dari Sanata Dharma tidaklah benar seutuhnya.

    Kalau begitu dimana letak kesalahannya? Telah banyak ku bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa aku telah menempuh jalur pendidikan Sekolah dasar selama 7 tahun, dengan keluarnya aku dari 'Sadhar', berarti aku telah memilih jalan untuk mengulang selama 2 tahun, dan itu berarti aku akan seangkatan dengan teman-teman dengan tahun kelahiran 2 tahun lebih muda dariku, dan hal itu sudah aku rasakan saat ini. Itu adalah kesalahan yang ku sadari sejak awal, dan kembali aku sadari saat ini. Dan kesalahan yang kedua yang kusadari saat ini adalah ketika aku kembali membentuk komunitas sosial di lingkungan baru ini. Aku sudah menyadari bahwa aku adalah orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan yang membuatku tidak nyaman, karena itu aku sangat selektif dalam memilih teman. Dan inilah yang mulai kurasakan di lingkungan baruku ini. Dalam dunia pertemanan aku sebenarnya sudah sangat nyaman dengan teman-teman dari Sanata Dharma, tetapi aku tidak nyaman dengan proses pembelajaranku di T.Informatika. Aku tahu, di dalam setiap jalan hidup akan selalu ada masalah, tidak akan tidak ada, tergantung bagaimana cara kita mengatasi dan menjalankannya dengan baik, sehingga kita terlatih dalam menghadapi situasi apapun. Aku bersyukur mempunyai Tuhan Yesus yang selalu membimbingku di setiap jalanku, sesulit apapun problema yang ku rasakan. Ketika ku berdoa dan berharap, Dia menjawab. 

    Saat ini aku tengah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan lingkungan sosialku, di dalam jurusan tempatku belajar. Sifat-sifat negatif dan terselubunglah yang membuatku tidak nyaman, contoh yang paling kental terasa adalah Senioritas. Ya, tak kusangka, di dalam salah satu universitas terbaik di Indonesia, yakni UGM, masih ada sifat-sifat senioritas seperti ini. Sifat ini memang tidak bisa aku utarakan di dalam tulisan oleh karena keterbatasku dalam berkata-kata, dan hal semcam ini memang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, melainkan dengan cara merasakannya sendiri dengan ikut ambil bagian dalam almamater UGM. Semoga saja hal ini tidak terjadi pada Jurusan yang lain. Karena kecerdasan dan Ilmu pengetahuanlah yang aku cari disini, bukan hal-hal negatif yang tidak membuatku berkembang. Inilah pergumulanku di UGM. Memang terasa terlihat sederhana, tetapi yang kurasakan sangat kompleks dan harus aku ungkapkan dalam berbagai judul tulisan. Apa yang kita rasakan buruk, belum tentu menurut orang lain itu buruk juga, dan begitu juga sebaliknya. Maka tugas kita sebagai Anak Allah adalah BERSYUKUR di dalam setiap keadaan, situasi dan kondisi sesulit apapun, sabar dan tenang, karena kita mempunya Tuhan Yesus yang menjawab setiap doa kita. :)
-masalah itu ada semata-mata hanya untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat-
Tuhan Memberkati

Selasa, 16 September 2014

Adaptasi



Hari ini, 12 september 2014, entah apa yang terjadi, dan mengapa hal ini bisa terjadi. Ya, tidak jelas memang, sampai saat ini, setelah sebulan berada di Jogja, aku masih merasa Tidak nyaman dan belum bisa menyesuaikan diri secara utuh dengan lingkungan baruku. Kurasa ini adalah penyakit psikologis yang sudah mendarah daging dalam hidupku T_T.
Hari ini tepat 1 tahun setelah kelulusan S2 ibuku dari UNJ, sekaligus tepat setahun aku merasakan sakit hati yang begitu dalam yang menjadi inti kemunduranku sampai saat ini. Saat ini aku kuliah di UGM, salah satu PTN yang berlokasi di Jogja, terdengar hebat? menurutku tidak. Ya, perasaan ini di karenakan perasaan kangen rumah yang begitu besar. aku bukanlah orang yang tahan berlama-lama jauh dari rumah, untungnya, saat ini aku lebih bisa mengendalikan perasaanku untuk tidak mengumbar-umbar kesedihan. Karena aku sudah belajar 'kasih' yang selalu ku ingat tiap pagi.
Kebiasaan dan kebahagiaan yang telah 20 tahun ku bangun di kota Bekasi, rumahku, tidak mudah untuk ku tinggalkan begitu saja. Tetapi inilah hidup, aku harus belajar untuk jauh dari segala hal yang kucintai, memang sulit, tapi hasil dari pengorbanan ini akan mendewasakanku di dalam Iman dan Kasih. Selama 3 tahun, secara utuh aku melihat perkembagan adik perempuanku yang lahir tahun 2010, Kinanti Laras Sakti. Aku sangat menikmati perhatianku terhadap adik kecilku ini, mulai dari saat ini keluar untuk melihat dunia, merangkak, berdiri, dan kemudian berjalan, dan berbicara dengan sangat lancar sebagai seorang anak kecil. Aku tidak terbiasa untuk menjalani kehidupan baru di kota lain. seandainya saja aku kuliah di Bekasi, ataupun di Jakarta, hal seperti ini tidak akan terjadi. Hal sepele yang sangat berat bagiku untuk kujalani, tetapi ini harus kujalani...
12 september 2012, saat-saat yang sulit buatku untuk bertahan di dalam ketidaknyamanan, tetapi inilah hidup yang sudah ku pilih, dan harus kujalani, aku tidak akan lagi mundur seperti tahun lalu, aku akan bertahan dan kemudian mengajarkan kebada banyak putra-putri bangsa, atas apa yang terjadi dalam hidupku, dan atas kehidupan yang tidak mulus ini.

12 September 2014 - 10.00am
pertama kalinya gue ke perpustakaan pusat UGM. Yah, gue rasa ini jawaban Tuhan atas ketidakbetahan gue terhadap suasana kostan yang sepi, apalagi suasana kampus DTM UGM yang sangat mencekam. Semoga ini bisa menjadi titik balik kehidupan gue yang tadi pagi gue keluhkesahkan di tulisan yang lain. Saat ini gue belum bisa 100% sepenuhnya mencintai lingkungan baru UGM ini. Yah~ karena suasana gedung kampus khusus tempat gue belajar teori sangat tidak nyaman, mencekam, seram, yang pasti angker. hahhaha..
Ini baru 1 dari sekian banyak tempat yang nantinya akan membuat gue lebih nyaman tinggal di Jogja, ketidaknyamanan gue yang sulit untuk di lepaskan hanya tinggal masalah kebatinan. Hal ini karena status "MABA" alias Mahasiswa Baru yang gue bawa disaat umur gue seharusnya semester 5. Kronis Ironis yaa!? hahaha yah kadang hal ini menjadi beban pikiran yang membuat gue setres sendiri. Apalagi ketika ditanya oleh teman-teman yang dulu pernah berada di satu angkatan yang sama. Yasudahlah, terkadang hal ini bisa membuatku terlihat lebih muda daripada teman-teman seumuranku, tetapi kekurangannya ialah kesiapan mental gue yang masih belum sebanding dengan teman-teman semester 5 yang seumuran. Pengalaman hidup inilah yang ingin gue bagikan kepada orang banyak, entah kenapa, semenjak keluar dari Universitas Sanata Dharma, gue malah ingin mengajar, entah hal apapun itu, dan semenjak gue masuk ke ruang lingkup universitas gajah mada, gue jadi semakin 'mateng' ingin mengajar fisika atau matematika, karena 2 hal itulah yang menjadi dasar teori di jurusan S1 Terapan alias D4 teknik mesin konsentrasi Alat Berat yang saat ini sedang gue jalani.
Semoga saja tulisan ini bisa menjadi hiburan dikala gue dewasa nanti, hahhaha... karena tidak ada yang lebih berharga daripada pengalaman, dan gue sangat menghargai setiap momen kejadian ataupun hal-hal apapun yang gue alami.
My experience is the best knowledge, for today, and my future...
GOD BLESS ME :D
12 september 2014 10-30

Jumat, 01 Agustus 2014

Memaafkan 70 Kali 7 Kali


Sudah hampir 1 tahun semenjak gue merasakan sakit hati yang terdalam yang pernah gue dapat seumur hidup gue. Dan selama hampir 1 tahun ini, sulit buat gue melupakan apa yang terjadi saat itu. Gue sadar, saat ini gue belum seutuhnya memaafkan dan melupakan apa yang telah terjadi. Sering kali gue mengungkit-ungkit lagi masalah yang pernah gue alami demi memberitakan kebenaran. Karena dengan menyertakan bukti, apa yg gue ceritakan ke orang lain menjadi lebih nyata dan dapat gue pertanggungjawabkan. Sebenarnya gue tau bahwa dengan menceritakan pengalaman sakit hati gue sama saja dengan membuka kembali luka lama, dan tidak hanya itu, dengan memberikan bukti atas sakit hati gue berarti secara gamblang gue tidak menyatakan 'KASIH' yang gue imani 'menutupi segala sesuatu' (1 korintus 13) dan ini hal fatal yang sulit untuk gue lepaskan. Karena apa yang gue sampaikan merupakan kebenaran, tetapi itu pula yang membuat gue resah karena tidak menyatakan kasih secara utuh.

Memaafkan itu tidak semudah mengucapkannya, diperlukan ketulusan hati yang sungguh-sungguh di dalam kata maaf. Jujur, gue memutuskan untuk menulis ini ketika gue melihat sosok pernah menyakiti hati gue. Dan jujur, sudah hampir setahun semenjak 'kejadian itu' dan masih ada sesuatu yang menyangkut di dalam hati gue sampai saat ini. Pergumulan ini belum gue temukan akar permasalahannya sampai sekarang, ya, ini adalah pergumulan gue dengan diri gue sendiri. Mengingat setelah apa yang terjadi setahun yang lalu, hubungan gue dangan yang bersangkutan benar-benar hilang sama sekali, tidak ada komunikasi, tatap muka, atau bahkan hanya sekedar kata sapaan. Gue gabisa hidup dengan menjamurnya masalah di dalam sudut kehidupan gue.

Gue sadar, setiap masalah bisa terjadi bukan hanya karena kesalahan satu pihak saja, tetapi kesalahan semua pihak yang bersangkutan dengan masalah tersebut. Konsep yang gue yakini tersebut sudah gue tanam di dalam hati semenjak gue mendapat masalah tersebut, dan hal yang paling tepat yang gue lakukan adalah meminta maaf. Memang gue sudah meminta maaf, tetapi setelah itu masih belum ada respon. Meminta maaf terlebih dahulu bukan berarti kita yang bersalah, itu adalah suatu bentuk kebesarah hati yang kita miliki terhadap sikap seseorang yang telah melukai kita, maka itu, karena gue juga merupakan suatu aspek di dalam masalah tersebut. Dan gue gak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar, sudah sepantasnya gue minta maaf terhadap apapun sikap gue yang juga menyakiti pihak lain. Dan gue tekankan, apa yang gue ceritakan bukan semata-mata menyombongkan hal yang telah gue lakukan, disini gue ingin memberikan contoh kepada banyak pihak untuk mengambil sikap yang tepat, meskipun sikap gue sendiri tidak sepenuhnya tepat, setidaknya bisa dijadikan pedoman, hhehe...

sama sekali gak terbayang di pikiran gue sebelumnya, permasalahan terbesar yang gue alami dan yang masih membebani gue selama setahun ini, bersangkutan dengan seseorang yang pernah menjadi sesuatu yang special, yang pernah gue sayang, dan bahkan gue pernah cintai.

yah, meskipun permintaan pertamanan gue di Path masih belum di respon, LINE dan Twitter gue masih di block, Facebook gak aktif, nomer hape ganti, dan 'lose contact' sama sekali, sepertinya hati gue masih ingin menjalin hubungan pertemanan yang baik, dan gue gak ingin meninggalkan kenangan yang tidak baik bagi orang lain dan bagi hidup gue sendiri. Karena hanya kenanganlah yang nantinya akan gue bawa sampai mati. Dan mungkin suatu saat dan dengan timing yang tepat, gue akan berusaha 'ngobrol' dengannya lagi, tentu dengan maksud menjalin hubungan baik. Tetapi sebelum itu, yang harus, musti, kudu gue lakukan saat ini adalah mengampuni 70 kali 7 kali, yang maknanya adalah mengampuni dengan tulus hati tanpa pamrih dan dan tidak mengingat atau bahkan mengungkit kembali masalah yang pernah terjadi. Saat gue sudah bisa melakukan hal tersebut seutuhnya, saat itu pula gue akan benar-benar melepaskan beban yang sudah satu tahun penuh ini gue bawa. Karena aku bergerak dengan iman, dan aku mengimani bahwa Tuhan Yesus menyediakan hal yang indah pada waktunya.. :)

"Kita harus selalu mengampuni / membebaskan orang yg bersalah kepada kita semasa umur hidup kita dengan hati yang tulus tanpa harus diingat ingat kembali. Inilah buah pertobatan yang sempurna sebagai seorang pengikut Kristus dimana kita diharuskan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik."

Rabu, 16 Juli 2014

Mencetak atau Menjadi

16-Juli 2014, sayang sekali aku tidak lolos dalam ujian SBMPTN, dan ini adalah keduakalinya aku mengikuti ujian ini. Tidak mungkin tidak sedih, karena aku menganggap usahaku sudah sangat getol untuk menggapai cita-citaku. Tetapi memang bukan jalanku dan memang bukan peruntunganku maka kesedihan itupun bisa ku manipulasi. Sehari setelah berfikir atas ketidaklulusanku aku mulai mecoba pola pikirku yang tidak biasa. Jika aku tidak bisa menggapai cita2ku yang begitu besar, kenapa aku tidak membatu mempersiapkan oranglain untuk menggapai cita2nya? entah kenapa pertanyaan ini muncul, apakah menjadi guru adalah panggilan buatku? Biarkan Tuhan yang menunjukkan jalanku :)



Mencetak atau menjadi. Aku masih mempunyai banyak kesempatan melalui jalur ujian mandiri di tahun ini, tetapi jalan itu tidak semudah yang aku pikirkan. Karena daya tampung yang terbatas, hal ini akan menjadi tantangan besar tersendiri bagiku. dan jika aku tidak bisa MENJADI apa yang aku inginkan, aku akan MENCETAK anak2 di masa depan untuk menjadi seperti apa yang tidak bisa aku gapai. Kurasa ini akan menjadi tantangan tersendiri buatku. Panggilan jiwa ini akan ku jawab ketika aku tidak bisa 'menjadi' tetapi sebelum itu tentu aku akan berusaha sesuai dengan porsi kekuatan dan kemampuan yang Tuhan rencanakan bagiku. ^_^

-Tuhan Punya cara-
kegagalanku yang bisa dibilang "sering" bukan lagi menjadi jurang, hal itu sudah menjadi makan siang buatku, dan kehidupanku yang sementara ini, kuserahkan kepada Tuhan yang menyediakan rencana terbaik bagiku ^_^

Rabu, 02 Juli 2014

Sekolah Tempat Bertumbuh - SD Marsudirini

kali ini gue gak akan memaparkan tulisan yang banyak dan berbelit, hanya foto dan gambar yang berbicara atas kenangan yang selama 5 tahun pernah gue ukir di sekolah dasar Marsudirini Bekasi.
Gue pertama kali masuk kelas satu di pertengahan tahun 2000. Sampai sekarangpun gue masih inget urutan kelas yang pernah gue duduki selama di 'Marsud' hhehe dimulai dari 1C, 2F, 3F, 4B, dan terakhir 5E... banyak kenagan yang sebelumnya pernah gue lupakan, bisa gue ingat kembali, dan ketika gue menyempatkan waktu dan berkunjung ke Marsud, banyak hal dan kenangan samar yang kembali segar~... langsung aja ke fotonya, mungkin dari sekian banyak yang melihat postingan ini ada yng pernah sekelas sama ane, dari kelas 1-5 Marsudirini Bekasi periode tahun 2000-2005 :)

















Selasa, 03 Juni 2014

#3 Angkatan Berbeda...?

Sedikit dari kita yang punya pengalaman dalam merasakan keunikan ini. Ya, aku adalah salah satu orang yang berpengalaman dalam merasakan 3 angkatan (sekolah) yang berbeda. Seharusnya aku adalah siswa yang lulus tahun 2012, tetapi pada kenyataannya setelah melewati proses perjalanan hidup yang tidak mudah, aku lulus pada tahun 2013, dan saat ini aku memperjuangkan kursi perguruan tinggi di tahun 2014. Inilah yang kumaksud dengan 3 angkatan yang berbeda. Adakah dari kalian yang juga pernah merasakannya?

Setiap angkatan yang kurasakan mempunyai keunikannya masing-masing, mereka mempunyai kriteria umum yang berbeda, meskipun secara garis besar sama, tetapi ada keunikan kecil yang bisa ku ambil. Aku mulai masuk sekolah dasar pada tahun 2000, dimana itu adalah tahun bagi angkatan pertamaku, dan masa itu berlangsung selama 5 tahun sampai aku kelas 5. Saat itu aku sekolah di Marsudirini Bekasi, dan aku telah mendapatkan banyak sekali teman. Yang ku perhatikan dari angkatan pertamaku ini adalah mereka mempunyai sifat senioritas, dimana setiap orang yang ku kenal (teman seangkatan) merasa mempunayai tingkatan yang lebih tinggi ataupun merasa jauh lebih dewasa dibanding adik-adik kelas pada saat itu. Mungkin saja hal ini bisa terjadi karena sifat anak kelas 5 sd yang belum dewasa, karena masih dalam kategori anak-anak, belum mecapai masa pra-remaja. Tetapi hal mengenai senioritas ini tidak kutemui setelah aku tinggal kelas dan merasakan angkatan keduaku di SD Mahanaim Bekasi. Disana aku belajar banyak mengenai solidaritas atas batas status sosial, karena aku bisa mengenal teman-teman yang mempunyai keluarga dengan tingkat kemampuan ekonomi keluarga yang bisa dibilang kurang. Di Mahanaim aku belajar banyak mengenai nilai-nilai kehidupan yang sampai saat ini membawaku menjadi pribadi yang lebih baik dalam memandang kesenjangan sosial. Hal ini yang tidak kudapatkan saat aku bersekolah di Marsudirini yang meskipun mempunyai tingkat nilai pendidikan mata pelajaran yang sangat baik, tetapi fakta yang banyak kutemukan dan kurasakan adalah sifat anak-anak yang besar kepala atas tingkatan sosial ekonomi keluarga mereka yang diatas rata-rata. Tetapi hal itu semua bercampur antara angkatan pertama dan kedua, ketika aku aktif dalam kegiatan osis di SMA, kedua sifat yang berbeda itu bercampur antara kakak dan adik kelas. Kesimpulannya, sifat setiap angkatan yang kutemui didapat dari sifat umum setiap angkatan pada sekolah asal (SD) masing-masing. Karena pada masa kritis inilah kita membangun sifat umum yang akan menjadi sifat dewasa kita...
kalau soal angkatan baru alias 2014 ini, belum betul2 merasakannya, karena hanya sebatan teman bimble saja~ tetapi secara umum sama saja... :)

Kamis, 01 Mei 2014

Review Pengalaman Singkat - Milih Jurusan Kuliah..?

Sebenarnya udah lama gue mau buat tulisan ini, tapi sering kali tidak terealisasikan, yah pengangguran gak bisa bikin alasan "gak punya waktu" so, alasannya gue lebih ketarik untuk menekan tombol A, W, D untuk bermain game yang ada di laptop gue, hhehehe

Untuk me-review lalu menuliskan pengalaman gue dalam setahun terakhir terasa berat, karena dibutuhkan waktu yang tidak singkat, dan membutuhkan beberapa judul postingan blog agar setiap momennya dapat terkotak-kotakan, sehingga apa yang gue sampaikan tidak 'berlibet'....

Tahun lalu, tepatnya di bulan April 2013, gue mengalami masa-masa yang sama menegangkannya dengan masa-masa gue saat ini, tetapi bukan masa lalu namanya jika tidak ada penyesalan, meskipun gue sendiri bersyukur untuk saat ini atas keseluruhan yang terjadi pada gue di masa lalu, tapi ada beberapa hal yang masih 'menyangkut' di hati. Hal ini bukan mengenai hubungan gue dengan si mantan, karena gue sadari gue sudah terlalu banyak bercerita dan 'curcol' tentang hal ini, hahaha. Hal ini mengenai ketegasan yang merupakan titik terlemah dalam diri gue. Gue orangnya tidak tegas terhadap diri sendiri, meskipun gue bisa sangat tegas terhadap orang lain. Saat ini gue mau mencoba me-review saat bulan April 2013, yakni saat dimana gue mencari perguruan tinggi, Sebenarnya tujuan gue jelas, Teknik Mesin, tetapi di dalam perjalanannya, dinding besar yang gue hadapi membuat gue berfikir untuk mencari jalan lain dengan kemungkinan berhasil yang lebih besar. Contohnya; saat gue memilih jurusan di perguruan tinggi negri, gue melihat peluang pada jurusan A lebih besar karena daya saingnya lebih sedikit, disitu gue terjerat dan menempatkan jurusan A itu di pilihan kedua setelah teknik mesin, dengan begitu gue terkesan meremehkan apa yang akan gue hadapi di SBMPTN 2013, karena pandangan gue saat itu berkata "mungkin gue akan keterima di jurusan A ini, karena peluangnya besar, yang penting PTN." Lihat pada apa yang gue garis bawahi, disitulah titik kelemahan banyak siswa peralihan yang tidak lama lagi menjadi mahasiswa. Mereka lebih mengutamakan gengsi ketimbang hasrat untuk belajar. Pada fase ini kita cenderung berfikir praktis dan impulsif, sama halnya seperti sosialita yang mengutamakan gengsi akan barang2 mewah. Kita pun akan begitu juga, akan lebih memlilih sesuatu yang dikenal, dalam konteks ini yakni Universitas.

Perlu kita pahami dalam hal kuliah, bukan berarti universitas di dunia semua sama saja, tidak begitu. Sama halnya seperti barang mewah dan kw, modelnya memang sama tetapi kuliatasnya jelas berbeda, dan kualitas itu dapat dibuktikan setelah bertahun-tahun, barang mewah tentu akan lebih tahan lama. Sama halnya dalam memilih universitas, di setiap universitas dimanapun, bisa saja menyediakan jurusan yang sama tetapi apakah bobot yang diberikan sama? tidak! inilah realita yang harus kita hadapi. Gue ambil contoh disini teknik mesin ITB dan teknik mesin Universitas Swasta Bekasi (sebut saja begitu), dapat kita lihat disini, covernya sama, sama-sama anak teknik, tetapi apa yang kita dapat di internal kelas di masing-masing universitas sangat berbeda. Dengan seleksi yang matang dan ketat, tentu saja ITB dapat menjalankan program studi dengan lebih cepat dan secara otomatis akan lebih banyak dan berbobot, berbeda halnya dengan Universitas Swasta Bekasi yang terkesan mencari murid ketimbang menseleksi calon mahasiswa baru. Dengan begitu sesama anak cerdas dengan kemampuan diatas rata-rata akan saling bersaing, berinovasi, bekerjasama, dan menyerap ilmu di satu kelas yang sama, bayangkan apa yang akan terjadi dengan kelas itu...? dan apa yang terjadi jika mahasiswa baru yang hanya sekedar masuk kuliah karena tidak ingin di anggap pengangguran, atau supaya kampusnya deket rumah, dan berbagai macam hal yang tidak memotivasi diri meskipun tidak semua anak, yang kemudian ditempatkan di dalam kelas yang sama...? Terjadi ketidakseimbangan yang sangat jelas dan dapat kita ukur dan kira-kira, apa yang akan terjadi kedepannya.

Dan realita berikutnya yang benar-benar mesti kita hadapi, gue dapat pada saat gue menghadiri 'Job-Fair' dimana disini terjadi semacam 'diskriminasi'. Karena faktanya, banyak perusahaan yang mengkriteriakan calon atau pelamar kerja dengan status yang berasal dari perguruan tinggi negri (PTN) karena dianggap lebih kompeten dalam bekerja dan berpola-pikir. Ada pula yang mengkriteriakan calon pelamar dari PTN dengan IP minimal 2.50 dan dari PTS dengan IP minimal 3.00. Tetapi kita yang dari PTS atau menentukan unutk kuliah di PTS tertentu, jangan khawatir, karena banyak pula perusahaan dengan kriteria pelamar yang lebih bebas karena lebih mengutamakan etos kerja yang perkiraannya di dapat dari seleksi pegawai. Jadi kita tidak perlu takut atau merasa rendah diri, tetapi harus kita sadari hidup ini adalah seleksi, kita yang hanya mampu berangan-angan tanpa ada tindakan yang pasti, perlahan-lahan akan gugur. Dan mereka yang bergerak maju membawa mimpinya sekuat tenaga akan tiba di puncak!

Jadi, saat kita memilih jurusan utamakan kepada jurusan yang benar-benar kita inginkan dari lubuk hati, cari jurusan yang serupa di dalam 1 universitas. Dan kemudian barulah memilih option lain di universitas cadangan. Disini gue bukan ingin menjelek-jelekan PTS, tetapi gue sarankan, jika mimpi kita memang besar, dan kita benar-benar ingin menggapainya sekuat tenaga, maka kita akan secara otomatis memilih jurusan dengan PTN favorite dan daya saing yang kuat, karena disitu kita akan benar-benar diuji sampai mana kekuatan mimpi kita. Tetapi kita juga jangan sampai terpuruk jika gagal, pasti ada jalan bagi kita yang bersungguh-sungguh. Jangan samakan diri kita ke mereka yang hanya mengalir dan pasrah lalu membiarkan dirinya masuk ke PTS yang tidak mempunyai daya saing yang tinggi...  
inilah realita kehidupan, dan kita tidak bisa lari darin kenyataan, dunia bisa saja menampung semua orang, tetapi hanya mereka yang kebal terhadap rasa malas yang mampu mencatatkan dirinya ke dalam dunia dan menjadi sejarah yang tak terlupakan :)
selamat berjuang!! dimulai dari menghadapi diri sendiri, kemudian dunia...!!!
-Ponang Adi Nugraha-

Selasa, 15 April 2014

SCAM...!!! Mengenal Suatu Modus Penipuan 'yukk~

Scam atau secara harafiah dapat kita artikan sebagai penipuan baru saja terjadi menimpa gue. Tapi eitsss, tunggu dulu, menimpa bukan berarti tertimpa dan akhirnya gue tertipu begitu saja, hhehe. Karena antisipasi dan penyelidikan yang gue lakukan terlebih dahulu membuat gue dapat mengerti dan mengetahui arah langkah penipuan ini sebelum gue tertipu. Sebelumnya maaf kalau ada beberapa bahasa inggris yang gue  pake disini tidak sesuai, grammar ngaco, atau vocab yang kurang, hehehe karena gue kurang pintar berbahasa.


'Scam' atau penipuan melalui media email, gue dapat per tanggal 14 April 2014 lalu, melalui account email Yahuut. Disini seseorang bernama Ella Joice Baker berperan sebagai penyumbang uang sebesar $ 750.000 USD bro..!!! siapa yang gak kepengen, ngahahaha apalagi si penipu menggunakan nama Tuhan untuk menyebarkan pesan penipuan ini. Kemudian dia meminta agar gue mengirimkan nama panjang dan negara asal, Meskipun begitu, awalnya si EJB ini mengirim email menggunakan bahasa indonesia, tentunya dengan tata bahasa yang sedikit aneh.



Disini gue mencoba sedikit percaya dengan antisipasi, iseng-iseng yang lumayan buat pengangguran IT semester 1 kaya gue ini, hhehehe. Gue membalas demikian karena kebetulan gereja gue juga butuh uang buat bangun plaster alias turap, hahaha jadi yasudahlah~ laluuuu....


tiba2 dia membalas dengan bahasa inggris!!! cuplikan ini menyatakan bahwa gue harus mengirimkan informasi kepada seseorang bernama Jacob Gilliam, tanpa pikir panjang, gue foward aja nih message ke alamat email yang di tunjukkan.


dan akhirnya si Pastor Jacob Gilliam membalas..!!!
yah intinya dia akan segera mengirimkan cek dengan uang tunai segitu besar! WOW, *ngiler *ngecessss....
Tetapi coba pikirkan, seseorang yang dengan mudahnya mengirimkan uang segitu besar kepada orang yang tidak di kenal, seorang pendeta pula, mengapa ia tidak menggunakan uangnya sendiri untuk pengembangan gerejanya, malah dikirim ke orang macem gue, ketawan malah gue buat modif motor ada juga, atau beli rumah, atau cari istri.. :"))) ngahahha intinya rentetan email ini super duper upper aneh bin ajaib tapi boong dah gan~


dan ini yang gue balas, hahahaha, tapi eits, yang gue cantumkan disitu adalah alamak alamat palsuu~ alias fake address, hehehehe... karena sebelumnya gue udah kroscek mengenai si Pastor Jacob Gilliam ini, dari asalnya, gerejanya, orangnya seperti apa, gue juga cek dan cari tahu emailnya, pokonya semuanya~
tapi tunggu dulu, apa yang gue balas belum selesai bro~ masih ada lanjutannya, dan eng ing eng.....


yah dengan bahasa inggris yang seadanya alias ngaco (karena emang gue kurang pinter bahasa inggris T_T tapi semangat buat belajar menggunakannya hehehe) gue membalas dengan mencantumkan hasil kroscek gue, hehehhe. Informasi itu gue dapet dari situs joewein yang merupakan yahoogroups yang mencantumkan alamat email berbahenol aka berbahaya.

Yah, dengan begini gue gajadi dapet $ 750.000 USD T_T, tapi kegiatan ini cukup menghibur hati jomblo ngenes macem gue ini. Soal Pastor Jacob gue juga udah cek profil aslinya, untuk mengetahu lebih lanjutnya coba agan cek sendiri aja. Inget mas mas mbak mbak, jangan mudah tergiur dengan uang, harta itu bukan segalanya, kalau konsep hidup yang seperti itu benar-benar terpatri dalam diri kita, kita tidak akan pernah tertipu dengan iming2 uang seperti ini, so ini dapat terjadi dimanapun dan kapanpun melalui media apapun dan dengan berbagai macam modus baru yang lebih kompleks dan meyakinkan, so tertap waspada dan hati2, kecerdasan seseorang akan diuji disini, hehehehe
so WASPADALAH...!!!! WASPADALAH...!!!!

Sabtu, 12 April 2014

Love The Memories

nada2nya kali ini gue bakal ngepost lagi tentang suatu hal yang sedikit lebay, dan membuka kesempatan orang lain mengejek lagi, hhehe... but, it doesn't matter, karena gue hanya menerima tanggapan positf yang membangun :'D... Yap, tulisan ini gue mulai karena ada akun di media sosial yang mengajak banyak 'pengikutnya' untuk bernostalgia dan memperdalam arti dari pertemanan semasa SMA. Dan berhubung dengan itu, karena begitu banyak lika-liku kehidupan gue semasa SMA, maka dari itu gue menulis postingan lebay ini lagi T_T

Yapp, masa-masa SMA itu bener-bener masa naik turunya kehidupan gue, sayangnya kenaikan nilai hidup yang gue rasakan di awal kelas 10 tidak gue rasakan lagi di akhir cerita SMA, alias di kelas 12, karena banyak kejatuhan dan keterpurukan yang terjadi di akhir perjalanan SMA gue, tapi gapapa, karena kebangkitan akan selalu aku songsong untuk masa depan *eaa~ Dan tentu saja masa-masa yang paling menonjol dan berkesan buat gue di saat SMA, masa2 pacaran yang gue bangun dengan indah dari akhir tahun 2011, harus berakhir tragis di akhir tahun 2013. Yah memang semua ada masanya, oleh karena itu gue mencoba mengambil pepatah dari einstein yang isinya dapat kita lihat dari foto dibawah... cekidot...

singkat kata, kita tidak boleh 'stuck' di satu titik! terus bergerak, untuk keseimbangan hidup...

hmm.. Ada beberapa bahasan yang gue comot dari blog sebelah, dan memang gak jauh-jauh dari sang mantan (kayak lagunya Nidji) yang inti dari tulisannya bisa kita lihat pada judul post ini... hhaha.

yap, apa yang terjadi belum lama ini, bahkan sering, gue mimpi tentang si pacar pertama gue, yang memang dulunya baru gue kenal di awal kelas 11, seorang anak pindahan yang selalu menyendiri, dengan sosoknya yang gendut dan susah di tebak. Penuh misteri dan sulit didekati, tetapi apa yang terjadi setelah itu, gue bisa suka :")) yah, cinta memang buta. Apa yang sudah gue ukir berdua sama dia, segala senyum tawa, kebahagiaan, kasih sayang yang setiap hari kita ungkapkan, dan tidak hanya itu, tangis haru, kesedihan, kepedihan hati, salah pengertian, perselisihan, bahkan kata-kata kasar yang kita lontarkan dikala kita sulit mengendalikan diri, semua yang terjadi selama 2 tahun masa pacaran pertama gue, adalah indah. ya keindahan lama yang sudah berakhir. "Atiku saiki wit legowo" hatiku sekarang mulai lapang CMIIW...

hmmm, dan ini yang gue pikirkan, gue bersyukur punya pengalaman pacaran yang penuh pelajaran, meskipun memang pelajaran itu bisa kita dapat tergantung dari bagaimana cara kita memandang sebuah pengalaman. hmmmm ini akan menjadi tulisan yang berkesan lebay~
kita mulai saja...
Untuknya yang udah mengisi masa-masa SMA gue dengan begitu indah, sehingga gue gak kesepian di kelas, selalu ada temen bercanda di samping kursi gue, makasih banget ^_^. Soal mimpi, untuknya yang sering hadir di mimpi gue. Gue gak pernah lihat muka yang marah atau kusam atau semacam itulah, yang ada adalah senyum dan damai, karena memang itu yang gue inginkan. Berhubung momennya lagi saat UN atau ujian nasional, gue teringat dikala kita sudah menyelesaikan Ujian Nasional itu, langsung main dan berselfie ria di rumahnya, hahaha.

Segala canda tawa dan lika-likunya yang sejak akhir tahun 2011 kita jalani, sekarang udah gaada, yang tersisa cuma kenangan yang tidak bisa dilupakan. Suatu saat nanti, mungkin kita akan dipertemukan, tetapi tidak untuk dipersatukan atau justru sebaliknya. Musuh kita adalah waktu, dan masing dari kita akan berjalan sendiri melawan waktu tanpa teman, berbekal buku sebagai kenangan, kamu adalah masa lalu, dan "mungkin" masa depan, meskipun kemungkinannya hanya sebesar biji sesawi yang disandingkan dengan Bumi. Segala sesuatu ada masanya, dan masa-masa kita berdua sudah selesai, dan menyisakan misteri akan masa depan kita yang selalu penuh dengan kemungkinan. Aku mencintaimu, bukan berarti aku ingin memilikimu dan merebutmu dari seorang lain yang memilikimu. Aku mencintaimu bahkan sampai cara terburukmu memperlakukanku. Aku mencintaimu bahkan disaat aku berusaha menolak kehadiranmu dan kenanganmu yang merasuki mimpiku.
dan akupun telah sadar,
aku mencintai.... kenangan kita...
kenangan kitalah yang aku cintai...
kenangan yang hanyalah masa lalu dengan gradasi warna ekstrem.
kenangan yang kita isi dengan ukiran, tidak dengan tulisan...
aku mencintai kenangan itu, karena aku tahu, .......
aku tidak mencintai dirimu yang sekarang....
karena apa yang terlah terjadi saat ini tidak sama lagi, tetapi kemungkinan selalu ada..
I Love The Memories... just the memories...
dan "senyum" ... itulah yang tersisa dikala gue mengingat kenangan itu...

yahh beginilah potingan lebay gue yang benar2 merupakan isi hati gue yang terdalam, tentu saja yang gue inginkan kedepannya adalah yang terbaik buat diri gue dan Tuhan Yesus :'D
yah, saat ini gue sedang menunggu untuk yang terbaik, yang belum hadir, tetapi penuh dengan pengharapan. hidup memang tidak mudah dicapai begitu saja, dibutuhkan prinsip dan kedewasaan yang alot...
yoo salam lebay~
!@#$%^

Kamis, 03 April 2014

Stop-lamp LED? BIKIN SENDIRI AJA...!! (cara merangkai LED)

LED merupakan suatu bahan semikonduktor yang dapat memancarkan cahaya yang berbeda2 sesuai dengan bahan dasar semikonduuktor itu sendiri, selengkapnya kalian cari tahu aja sendiri :p karena pada tulisan kali ini, gue hanya memberikan tutorial singkat mengenai cara merangkai LED yang benar untuk lampu kendaraan bermotor ataupun untuk keperluan lainnya...

untuk meragkai LED itu susah-susah gampang, gue aja harus ngulang 2 kali supaya mendapatkan hasil yang sesuai dan pastinya tidak salah. Alat yang diperlukan adalah :
 1. solder
 Untuk soder ada varian harganya, gue saranin beli yang lumayan bagus, dengan harga sekitar +/-40rb tapi awet dibanding solder abal (gangang kayu), ane beli 16rb seharian di pake langsung rusak T_T, akhirnya gue beli lagu yang bagusan (gagang biru) dengan harga 35rb, tapi memuaskan. Sumbu cepet panas dan awet.

2. Gunting + tang + meja buat kerja, biar ga berantakan hehehe



























3. 2 komponen utama, LED dan timah + Resistor dan PCB buat dasar tempat merangkai LED, gambarnya bisa di lihat di bagian meja sebelah kanan timah, itu sudah dibentuk dan disesuaikan dengan dudukan rumah lampu. biasanya di jual dalam bentuk persegi panjang. Jangan lupa pakai PCB yang bolong gan, supaya gampang ngerangkainya :D

 LED @700 rupiah :'D

Resistor @100 rupiah













langsung aja kita ngerangkai...
pertama2 yang harus kita lakukan adalah membuat desain rangkaian, kita ingin membuat seperti apa, dan jangan lupa memperhitungkan nilai rangkaian seri yang akan di pakai. Merangkai LED gak hanya sekedar main pasang begitu saja, tetapi juga ada tata cara dengan perhitungan fisika, agar LED tidak konslet karena arus yang berlebihan, kita menggunakan rumus untuk menentukan hambatan yang diperlukan

cara menghitungnya begini gan, ada susunan tetapan volt dalam setiap warna LED yang di pakai, mudahnya gue membagi spektrum warna jadi 4 bagian:
-MErah dan JIngga (orange) mempunyai tegangan 2-2.5 volt
-KUning dan HIjau mempunyai tegangan 2.6-3 volt
-BIru dan NIla (putih, biasa disebut led super-bright) mempunyai tegangan 3-3.5 volt
-dan UV (ungu ultraviolet) mempunyai tegangan 3.5 volt
itu tetapan yang saya buat sendiri yang sudah saya sesuaikan sendiri dengan tetapan yang aslinya, hehehe..

disini kita ibaratkan arus tegangan yang kita gunakan berasal dari Aki motor (12 volt) dan I =0.005
untuk menentukan hambatan yang kita perlukan agar lampu LED dapat menyala dengan terang dan tidak redup ataupun gosong, menggunakan rumus V=IR, jadi R= V/ I
dimana V adalah arus listrik utama, di kurang jumlah tetapan arus LED, contoh disini saya merangkai LED warna merah sebanyak 5 rangkaian seri, berarti V= 2x5= 10volt, maka R=(12-10)volt/ 0.005
hasilnya adalah R= 400ohm, perlu kita ketahui bahwa tidak ada resistor sebesar 400ohm di pasaran, maka kita menggunakan 390ohm.



*dan perlu kita perhatikan, jangan merangkai LED dengan jumlah volt lebih besar dari arus utama, karena LED akan redup, tetapi jika kurangpun tidak apa-apa, contoh yang saya pakai adalah merangkai LED biru dan putih dalam 2 rangkaian seri dan menggunakan resistor 390 ohm masih oke-oke aja, sudah setahun saya pakai, hehe... padahal jika kita hitung biru / putih R= (12-(3.5x2))/ 0.005 = 100ohm.

*dan PERHATIKAN, jangan merangkai led tanpa resistor dengan arus besar, karena dapat dipastikan LED akan langsung mati dan tidak bisa digunakan lagi...

*perhatikan juga, jangan merangkai LED dengan warna berbeda dalam 1 rangkaian seri dengan 1 resistor, karena beda tegangan tiap LED akan membuat arus tidak seimbang.

rangkaian LED kita buat secara seri lalu di pararelkan dengan rangkaian seri yang lain dan seterusnya, maka sangatlah penting sebuah desain dalam mengerjakan rangkaian LED, langsung kita lihat hasilnya gan!

kelihatannya sederhana dan mudah ya gan :"___ )
resistor yang saya pakai sama besar, 390ohm
perhatikan juga sisi (+) dan (-) dari led gan..











padahal belakangnya T_T...
marakke mumet, ngerangkai LED tidak hanya membutuhkan ketrampilan dan perhitungan tetapi juga kreativitas.. :D








warna Putih (4 pararel dengan rangkaian seri 2-3 buah)
 warna Biru (4 pararel dengan rangkaian seri 2-3 buah)
 lampu belakang, LED merah 
 kaya lampu moge kan gan :'D 
semuanya nyala nih :"D

gimana gan? hasil rangkaian LED karya saya, buat lampu belakang vixion hehehe
berikut video uji coba LED di motor, sistem pencolokan kabelnya (hallah*) sudah gue sesuaikan dengan keinginan pribadi dan kemampuan motor, hhehehe 


video

Kesimpulannya, hasil dari rangkaian LED yang kita buat memang tidak lebih rapi dari rangkaian LED pabrikan, tetapi yang kita cari disini bukan hanya dari sisi kita bisa membuat LED sesuai dengan keinginan kita, tetapi juga rasa puas akan hasil karya, proud of self nya tuh dapet, haha... kalau gagal, jangan menyerah, anggap saja itu sebagai harga yang kita bayar untuk sebuah pengetahuan dan percobaan, gue sendiri gagal 3 kali T_T tahun lalu sempet ngerangkai gagal 2 kali, dan kemaren gagal lagi sekali, hhaha, yang penting adalah rasa ingin tahu dan tidak mudah menyerah untuk mendapatkan suatu hal yang baru, :D

selamat mencoba agan-agan...!!! 
jangan takut jatuh ke lobang yang sama, takutlah jika kita takut untuk mulai mencoba, dan terus belajar................ :D
meskipun begitu, tetap saja, lebih baik jangan sampai jatuh ke lobang yang sama, pelajari kesalahan di masa lalu, kemudian membenarkannya pada kesempatan selanjutnya... padiexperience.blogspot.com