Kamis, 01 Mei 2014

Review Pengalaman Singkat - Milih Jurusan Kuliah..?

Sebenarnya udah lama gue mau buat tulisan ini, tapi sering kali tidak terealisasikan, yah pengangguran gak bisa bikin alasan "gak punya waktu" so, alasannya gue lebih ketarik untuk menekan tombol A, W, D untuk bermain game yang ada di laptop gue, hhehehe

Untuk me-review lalu menuliskan pengalaman gue dalam setahun terakhir terasa berat, karena dibutuhkan waktu yang tidak singkat, dan membutuhkan beberapa judul postingan blog agar setiap momennya dapat terkotak-kotakan, sehingga apa yang gue sampaikan tidak 'berlibet'....

Tahun lalu, tepatnya di bulan April 2013, gue mengalami masa-masa yang sama menegangkannya dengan masa-masa gue saat ini, tetapi bukan masa lalu namanya jika tidak ada penyesalan, meskipun gue sendiri bersyukur untuk saat ini atas keseluruhan yang terjadi pada gue di masa lalu, tapi ada beberapa hal yang masih 'menyangkut' di hati. Hal ini bukan mengenai hubungan gue dengan si mantan, karena gue sadari gue sudah terlalu banyak bercerita dan 'curcol' tentang hal ini, hahaha. Hal ini mengenai ketegasan yang merupakan titik terlemah dalam diri gue. Gue orangnya tidak tegas terhadap diri sendiri, meskipun gue bisa sangat tegas terhadap orang lain. Saat ini gue mau mencoba me-review saat bulan April 2013, yakni saat dimana gue mencari perguruan tinggi, Sebenarnya tujuan gue jelas, Teknik Mesin, tetapi di dalam perjalanannya, dinding besar yang gue hadapi membuat gue berfikir untuk mencari jalan lain dengan kemungkinan berhasil yang lebih besar. Contohnya; saat gue memilih jurusan di perguruan tinggi negri, gue melihat peluang pada jurusan A lebih besar karena daya saingnya lebih sedikit, disitu gue terjerat dan menempatkan jurusan A itu di pilihan kedua setelah teknik mesin, dengan begitu gue terkesan meremehkan apa yang akan gue hadapi di SBMPTN 2013, karena pandangan gue saat itu berkata "mungkin gue akan keterima di jurusan A ini, karena peluangnya besar, yang penting PTN." Lihat pada apa yang gue garis bawahi, disitulah titik kelemahan banyak siswa peralihan yang tidak lama lagi menjadi mahasiswa. Mereka lebih mengutamakan gengsi ketimbang hasrat untuk belajar. Pada fase ini kita cenderung berfikir praktis dan impulsif, sama halnya seperti sosialita yang mengutamakan gengsi akan barang2 mewah. Kita pun akan begitu juga, akan lebih memlilih sesuatu yang dikenal, dalam konteks ini yakni Universitas.

Perlu kita pahami dalam hal kuliah, bukan berarti universitas di dunia semua sama saja, tidak begitu. Sama halnya seperti barang mewah dan kw, modelnya memang sama tetapi kuliatasnya jelas berbeda, dan kualitas itu dapat dibuktikan setelah bertahun-tahun, barang mewah tentu akan lebih tahan lama. Sama halnya dalam memilih universitas, di setiap universitas dimanapun, bisa saja menyediakan jurusan yang sama tetapi apakah bobot yang diberikan sama? tidak! inilah realita yang harus kita hadapi. Gue ambil contoh disini teknik mesin ITB dan teknik mesin Universitas Swasta Bekasi (sebut saja begitu), dapat kita lihat disini, covernya sama, sama-sama anak teknik, tetapi apa yang kita dapat di internal kelas di masing-masing universitas sangat berbeda. Dengan seleksi yang matang dan ketat, tentu saja ITB dapat menjalankan program studi dengan lebih cepat dan secara otomatis akan lebih banyak dan berbobot, berbeda halnya dengan Universitas Swasta Bekasi yang terkesan mencari murid ketimbang menseleksi calon mahasiswa baru. Dengan begitu sesama anak cerdas dengan kemampuan diatas rata-rata akan saling bersaing, berinovasi, bekerjasama, dan menyerap ilmu di satu kelas yang sama, bayangkan apa yang akan terjadi dengan kelas itu...? dan apa yang terjadi jika mahasiswa baru yang hanya sekedar masuk kuliah karena tidak ingin di anggap pengangguran, atau supaya kampusnya deket rumah, dan berbagai macam hal yang tidak memotivasi diri meskipun tidak semua anak, yang kemudian ditempatkan di dalam kelas yang sama...? Terjadi ketidakseimbangan yang sangat jelas dan dapat kita ukur dan kira-kira, apa yang akan terjadi kedepannya.

Dan realita berikutnya yang benar-benar mesti kita hadapi, gue dapat pada saat gue menghadiri 'Job-Fair' dimana disini terjadi semacam 'diskriminasi'. Karena faktanya, banyak perusahaan yang mengkriteriakan calon atau pelamar kerja dengan status yang berasal dari perguruan tinggi negri (PTN) karena dianggap lebih kompeten dalam bekerja dan berpola-pikir. Ada pula yang mengkriteriakan calon pelamar dari PTN dengan IP minimal 2.50 dan dari PTS dengan IP minimal 3.00. Tetapi kita yang dari PTS atau menentukan unutk kuliah di PTS tertentu, jangan khawatir, karena banyak pula perusahaan dengan kriteria pelamar yang lebih bebas karena lebih mengutamakan etos kerja yang perkiraannya di dapat dari seleksi pegawai. Jadi kita tidak perlu takut atau merasa rendah diri, tetapi harus kita sadari hidup ini adalah seleksi, kita yang hanya mampu berangan-angan tanpa ada tindakan yang pasti, perlahan-lahan akan gugur. Dan mereka yang bergerak maju membawa mimpinya sekuat tenaga akan tiba di puncak!

Jadi, saat kita memilih jurusan utamakan kepada jurusan yang benar-benar kita inginkan dari lubuk hati, cari jurusan yang serupa di dalam 1 universitas. Dan kemudian barulah memilih option lain di universitas cadangan. Disini gue bukan ingin menjelek-jelekan PTS, tetapi gue sarankan, jika mimpi kita memang besar, dan kita benar-benar ingin menggapainya sekuat tenaga, maka kita akan secara otomatis memilih jurusan dengan PTN favorite dan daya saing yang kuat, karena disitu kita akan benar-benar diuji sampai mana kekuatan mimpi kita. Tetapi kita juga jangan sampai terpuruk jika gagal, pasti ada jalan bagi kita yang bersungguh-sungguh. Jangan samakan diri kita ke mereka yang hanya mengalir dan pasrah lalu membiarkan dirinya masuk ke PTS yang tidak mempunyai daya saing yang tinggi...  
inilah realita kehidupan, dan kita tidak bisa lari darin kenyataan, dunia bisa saja menampung semua orang, tetapi hanya mereka yang kebal terhadap rasa malas yang mampu mencatatkan dirinya ke dalam dunia dan menjadi sejarah yang tak terlupakan :)
selamat berjuang!! dimulai dari menghadapi diri sendiri, kemudian dunia...!!!
-Ponang Adi Nugraha-