Jumat, 01 Agustus 2014

Memaafkan 70 Kali 7 Kali


Sudah hampir 1 tahun semenjak gue merasakan sakit hati yang terdalam yang pernah gue dapat seumur hidup gue. Dan selama hampir 1 tahun ini, sulit buat gue melupakan apa yang terjadi saat itu. Gue sadar, saat ini gue belum seutuhnya memaafkan dan melupakan apa yang telah terjadi. Sering kali gue mengungkit-ungkit lagi masalah yang pernah gue alami demi memberitakan kebenaran. Karena dengan menyertakan bukti, apa yg gue ceritakan ke orang lain menjadi lebih nyata dan dapat gue pertanggungjawabkan. Sebenarnya gue tau bahwa dengan menceritakan pengalaman sakit hati gue sama saja dengan membuka kembali luka lama, dan tidak hanya itu, dengan memberikan bukti atas sakit hati gue berarti secara gamblang gue tidak menyatakan 'KASIH' yang gue imani 'menutupi segala sesuatu' (1 korintus 13) dan ini hal fatal yang sulit untuk gue lepaskan. Karena apa yang gue sampaikan merupakan kebenaran, tetapi itu pula yang membuat gue resah karena tidak menyatakan kasih secara utuh.

Memaafkan itu tidak semudah mengucapkannya, diperlukan ketulusan hati yang sungguh-sungguh di dalam kata maaf. Jujur, gue memutuskan untuk menulis ini ketika gue melihat sosok pernah menyakiti hati gue. Dan jujur, sudah hampir setahun semenjak 'kejadian itu' dan masih ada sesuatu yang menyangkut di dalam hati gue sampai saat ini. Pergumulan ini belum gue temukan akar permasalahannya sampai sekarang, ya, ini adalah pergumulan gue dengan diri gue sendiri. Mengingat setelah apa yang terjadi setahun yang lalu, hubungan gue dangan yang bersangkutan benar-benar hilang sama sekali, tidak ada komunikasi, tatap muka, atau bahkan hanya sekedar kata sapaan. Gue gabisa hidup dengan menjamurnya masalah di dalam sudut kehidupan gue.

Gue sadar, setiap masalah bisa terjadi bukan hanya karena kesalahan satu pihak saja, tetapi kesalahan semua pihak yang bersangkutan dengan masalah tersebut. Konsep yang gue yakini tersebut sudah gue tanam di dalam hati semenjak gue mendapat masalah tersebut, dan hal yang paling tepat yang gue lakukan adalah meminta maaf. Memang gue sudah meminta maaf, tetapi setelah itu masih belum ada respon. Meminta maaf terlebih dahulu bukan berarti kita yang bersalah, itu adalah suatu bentuk kebesarah hati yang kita miliki terhadap sikap seseorang yang telah melukai kita, maka itu, karena gue juga merupakan suatu aspek di dalam masalah tersebut. Dan gue gak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar, sudah sepantasnya gue minta maaf terhadap apapun sikap gue yang juga menyakiti pihak lain. Dan gue tekankan, apa yang gue ceritakan bukan semata-mata menyombongkan hal yang telah gue lakukan, disini gue ingin memberikan contoh kepada banyak pihak untuk mengambil sikap yang tepat, meskipun sikap gue sendiri tidak sepenuhnya tepat, setidaknya bisa dijadikan pedoman, hhehe...

sama sekali gak terbayang di pikiran gue sebelumnya, permasalahan terbesar yang gue alami dan yang masih membebani gue selama setahun ini, bersangkutan dengan seseorang yang pernah menjadi sesuatu yang special, yang pernah gue sayang, dan bahkan gue pernah cintai.

yah, meskipun permintaan pertamanan gue di Path masih belum di respon, LINE dan Twitter gue masih di block, Facebook gak aktif, nomer hape ganti, dan 'lose contact' sama sekali, sepertinya hati gue masih ingin menjalin hubungan pertemanan yang baik, dan gue gak ingin meninggalkan kenangan yang tidak baik bagi orang lain dan bagi hidup gue sendiri. Karena hanya kenanganlah yang nantinya akan gue bawa sampai mati. Dan mungkin suatu saat dan dengan timing yang tepat, gue akan berusaha 'ngobrol' dengannya lagi, tentu dengan maksud menjalin hubungan baik. Tetapi sebelum itu, yang harus, musti, kudu gue lakukan saat ini adalah mengampuni 70 kali 7 kali, yang maknanya adalah mengampuni dengan tulus hati tanpa pamrih dan dan tidak mengingat atau bahkan mengungkit kembali masalah yang pernah terjadi. Saat gue sudah bisa melakukan hal tersebut seutuhnya, saat itu pula gue akan benar-benar melepaskan beban yang sudah satu tahun penuh ini gue bawa. Karena aku bergerak dengan iman, dan aku mengimani bahwa Tuhan Yesus menyediakan hal yang indah pada waktunya.. :)

"Kita harus selalu mengampuni / membebaskan orang yg bersalah kepada kita semasa umur hidup kita dengan hati yang tulus tanpa harus diingat ingat kembali. Inilah buah pertobatan yang sempurna sebagai seorang pengikut Kristus dimana kita diharuskan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik."