Rabu, 17 September 2014

Hidup baru, problema baru, BERSYUKUR

tak terasa, sudah 1 semester aku nganggur, hhehe.. bukan berarti aku tidak mendapatkan apa2 dalam pengagguranku. Ya, setelah memutuskan untuk keluar dari Sanata Dharma dan berbagai macam pertimbangannya, aku kembali belajar giat dan berusaha untuk mendapatkan PTN dan jurusan yang aku inginkan, memang perjuangan yang tidak mudah dan penuh lika liku. Pada akhirnya aku terjebak disini, lagi. Ya, lagi, karena saat ini aku berada di kota yang sama dengan kota tempat aku menempuh jalur pendidikan S1 teknologi informasi di Sanata Dharma yaitu Jogja. Saat ini aku terdampar di Universitas Gajah Mada (UGM) dan menempuh jalur D4 atau bisa disetarakan dengan S1 dengan embel-embel Terapan (S1 terapan). Mengapa aku bilang terdampar, karena pada dasarnya aku tahu bahwa keputusanku keluar dari Sanata Dharma tidaklah benar seutuhnya.

    Kalau begitu dimana letak kesalahannya? Telah banyak ku bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa aku telah menempuh jalur pendidikan Sekolah dasar selama 7 tahun, dengan keluarnya aku dari 'Sadhar', berarti aku telah memilih jalan untuk mengulang selama 2 tahun, dan itu berarti aku akan seangkatan dengan teman-teman dengan tahun kelahiran 2 tahun lebih muda dariku, dan hal itu sudah aku rasakan saat ini. Itu adalah kesalahan yang ku sadari sejak awal, dan kembali aku sadari saat ini. Dan kesalahan yang kedua yang kusadari saat ini adalah ketika aku kembali membentuk komunitas sosial di lingkungan baru ini. Aku sudah menyadari bahwa aku adalah orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan yang membuatku tidak nyaman, karena itu aku sangat selektif dalam memilih teman. Dan inilah yang mulai kurasakan di lingkungan baruku ini. Dalam dunia pertemanan aku sebenarnya sudah sangat nyaman dengan teman-teman dari Sanata Dharma, tetapi aku tidak nyaman dengan proses pembelajaranku di T.Informatika. Aku tahu, di dalam setiap jalan hidup akan selalu ada masalah, tidak akan tidak ada, tergantung bagaimana cara kita mengatasi dan menjalankannya dengan baik, sehingga kita terlatih dalam menghadapi situasi apapun. Aku bersyukur mempunyai Tuhan Yesus yang selalu membimbingku di setiap jalanku, sesulit apapun problema yang ku rasakan. Ketika ku berdoa dan berharap, Dia menjawab. 

    Saat ini aku tengah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan lingkungan sosialku, di dalam jurusan tempatku belajar. Sifat-sifat negatif dan terselubunglah yang membuatku tidak nyaman, contoh yang paling kental terasa adalah Senioritas. Ya, tak kusangka, di dalam salah satu universitas terbaik di Indonesia, yakni UGM, masih ada sifat-sifat senioritas seperti ini. Sifat ini memang tidak bisa aku utarakan di dalam tulisan oleh karena keterbatasku dalam berkata-kata, dan hal semcam ini memang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, melainkan dengan cara merasakannya sendiri dengan ikut ambil bagian dalam almamater UGM. Semoga saja hal ini tidak terjadi pada Jurusan yang lain. Karena kecerdasan dan Ilmu pengetahuanlah yang aku cari disini, bukan hal-hal negatif yang tidak membuatku berkembang. Inilah pergumulanku di UGM. Memang terasa terlihat sederhana, tetapi yang kurasakan sangat kompleks dan harus aku ungkapkan dalam berbagai judul tulisan. Apa yang kita rasakan buruk, belum tentu menurut orang lain itu buruk juga, dan begitu juga sebaliknya. Maka tugas kita sebagai Anak Allah adalah BERSYUKUR di dalam setiap keadaan, situasi dan kondisi sesulit apapun, sabar dan tenang, karena kita mempunya Tuhan Yesus yang menjawab setiap doa kita. :)
-masalah itu ada semata-mata hanya untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat-
Tuhan Memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar