Minggu, 14 Desember 2014

Jati Diri

Jati Diri
29-11-2014
Setelah 20 tahun lebih gue hidup, gue masih bingung, sebenarnya siapa gue? Apa yang gue bisa di dalam hidup? Hidup gue ini berdampak terhadap orang lain atau tidak? Yah, kebingungan jati diri ini gue dapat ketika gue terkatung-katung dalam kehidupan kuliah gue, yaitu kehidupan setelah lulus SMA pada tahun 2013 silam. Di kampus lama gue, Sanata Dharma, gue menemukan diri gue salah jurusan, dan di lingkungan baru gue, UGM, gue menemukan diri gue salah lingkungan. Gue sendiri terkadang bingung apa yang sebenarnya apa yang gue pingin. Inilah hidup, selalu ada perubahan, cepat atau lambat, kita sebagai manusia hanya bisa pasrah terhadap perubahan dan mengikuti arus perubahan itu. Jika kita tidak bisa mengikutinya, ketertinggalan lah yang kita dapat.
Awalnya gue berfikir hidup gue akan berjalan sesuai dengan bayangan indah gue semasa SMA akan apa yang akan terjadi di masa depan, yaitu masa dimana gue akan menjalani kehidupan kuliah gue. Tetapi inilah yang gue dapat, entah karena gue tidak bisa berkembang dengan baik, pertumbuhan metal gue yang lambat, sikap gue yang childish, atau karena gue yang banyak maunya dengan modal sedikit. Kebingungan, gue rasa itu defisini yang paling tepat untuk hidup gue saat ini. Setelah melalui pergumulan panjang dan lika liku kehidupan yang terkatung-katung ini, akhirnya perlahan bisa mendefinisikan secara rinci apa yang terjadi di dalam hidup gue. Yah, gue ini orang yang plin plan, tidak tegas dalam mengambil keputusan, dan banyak maunya. Sepertinya banyak hal yang tidak baik yang tertanam di dalam hidup gue. Entah kenapa ini terjadi setelah gue lulus SMA. Jika gue mencoba flashback terhadap kehidupan gue dari SD sampai SMA, semua dipenuhi dengan hal hal yang indah. Aku tidak mengingat hal yang membuatku merasa khawatir dimasa-lalu, apa mungkin itu adalah karena masa lalu. Tentang masa depan dan masa sekarang? Ini masih menjadi pertanyaan buatku. Siapa aku sebenarnya? Dan akan jadi apa aku sebenarnya? Aku bisa saja memiulih masa depan yang seperti apa, tetapi tidak bisa menentukan jalan yang harus aku tempuh, karena semua sudah dirancangNya. Satu hal yang kuimani, aku hanya harus percaya rancanganNya adalah yang terbaik untuk membentuk hidupku.
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” – Amsal 16:9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar