Minggu, 14 Desember 2014

Jogja dan Sakit Hati

JOGJA dan Sakit Hati
26 November 2014

Lagi, gue merasakan homesick di Jogja, setelah 3 bulan berada di sini, sepertinya gue belom benar2 bisa meninggalkan kenyamanan yang gue dapet di bekasi. Pagi ini juga gue sempat menonton video yang berisi tentang “Forgiveness” yaitu pengampunan, dan gue kembali teringat tentang sakit hati yang gue dapat setahun yang lalu. Sakit hati dari orang yang paling gue peracaya semasa SMA. Entah bagaimana cara melupakannya, satu hal yang gue yakin, hal ini sulit untuk dilupakan. Bahkan ketika gue mencoba melupakan dan memaafkan segala yang telah terjadi, hati gue seakan menjerit dan menangis, seperti sulit untuk menerima apa yang telah terjadi setahun lalu. Gue sudah sangat berusaha meresapi “KASIH” dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari gue, dan pengampunan akan sakit hati inilah yang tersulit dari antara definisi kasih itu sendiri, yakni kasih yang memaafkan tanpa pamrih. Gue teringat lagu yang dibawakan Maria Shandy yang berjudul Mengampuni, dan isinya yang sangat dalam buat gue dalam hal mengampuni.
“Ketika hatiku t’lah disakiti, ajarku memberi hati mengampuni, ketika hidupku t’lah dihakimi, ajarku memberi hati mengasihi. Ampuni bila kami tak mampu mengampuni yang bersalah kepada kami, seperti hati Bapa, mengampuni, mengasihi tiada pamrih”
Sulit buat gue melupakan, fitnah, caci maki, dan segala rasa sakit hati yang gue terima dari orang yang saat itu bahkan masih menjadi orang lain yang gue sayang. Gue sadar, hal itu hanya menyita waktu gue sampai saat ini, beruntungnya setelah melewatii quartal pertama tahun 2014 ini, gue perlahan-lahan berhasil move-on dan melupakan. Disinilah hidup gue mulai dibangkitkan Tuhan, ketika gue rela memaafkan apa yang telah terjadi. Mungkin hidup gue saat itu, saat merasakan sakit hati yang dalam itu, telah sangat berubah dari saat gue belum menerima sakit hati itu. Tetapi ketika gue melihat keadaan gue saat ini, gue sadar, cobaan itu semata-mata hanya untuk melatih penguasaan diri gue terhadap perasaan sakit hati.
Yah... sepertinya perasaan homesick ini membawa gue kembali mengingat segala kejadian yang terjadi di Bekasi. Karena faktanya, ketika gue berada di bekasi, yang gue dapat adalah ketenangan hati dan jiwa, gue menjalin kebahagiaan semua berawal ketika gue di bekasi, awal dari cinta, awal dari kebahagiaan, awal dari pemulihan. Sementara, selama gue di Jogja, yang gue dapat adalah sakit hati, salah jurusan (pada semester awal 2013), homesick, dan banyak perasaan yang tidak nyaman saat gue mulai hijrah ke kota pelajar ini. Entah apa yang terjadi pada gue pada tahun ini, yang membawa gue kembali ke Jogja, tempat yang seharusnya paling gue jauhi, karena menyimpan kenagan buruk. Yahh.. setidaknya itu adalah pikiran negatif yang perlahan mulai gue lupakan. Karena gue sadar, gue berada disini, dan ditempatkan disini untuk yang keduakalinya adalah karena rencana Tuhan yang pastinya Indah di dalam hidup gue. Mungkin belum saat ini, tetapi tidak sampai 4 tahun lamanya. Karena apa yang terjadi di semester baru di kampus baru ini adalah awal, ya, baru 3 bulan lamanya gue kuliah secara efektif di UGM. Bukan salah jurusan yang dapat, tetapi ketidaknyamanan lingkungan baru gue ini. Entah mengapa bisa begini, dulu di Sanata Dharma gue merasa mendapatkan lingkungan baru yang tepat tetapi dengan jurusan yang salah, tetapi di UGM ini gue mendapatkan jurusan yang tepat tetapi dengan lingkungan yang tidak tepat. Fiuh... ketidaknyamanan lingkungan ini PR yang besar untuk cepat gue tuntaskan. Beruntungnya gue punya komunitas gereja dari GKJ Bekasi Bambu Kuning yang bisa menenangkan hati gue dikala galau dengan kegiatan Sharing, bernyanyi, dan mendengarkan firman Tuhan.
“Waktu Tuhan bukan waktu kita, jangan sesali keadaannya... Untuk semua pada waktu Tuhan, tetap setia mengandalkanNya... Segala yang terjadi di hidupku, janji Tuhan menghidupiku selalu, ku yakin, percaya, pada waktunya Tuhan, semua’kan ndah pada waktunya ”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar